8.02.2018

TUAN GURU BAJANG (TGB) ON THE RIGHT TRACK !!...............?


Beberapa tulisan saya sebelumnya telah membicarakan tentang TGB. Dari membicarakan pandangan orang luar Lombok atas makna Bajang secara semantik hingga isu kata “tiko” yang saya tulis dari sudut pandang pragmatik. Tulisan saya kali ini ingin berbicara TGB on the right track tanda seru dan tanya. Pertanyaan utamanya adalah apakah TGB on the right track? Dari pertanyaan ini nanti kita bisa menemukan sebuah konseptualisasi bagaimana melihat TGB sebagai orang Sasak dan juga anak bangsa yang memiliki hak yang sama dengan anak bangsa lainnya untuk berdikari dan bersuara. Walaupun beliau dilahirkan pada bangsa sasak, tapi TGB sejatinya juga milik Indonesia. Hanya saja TGB salah Sasak mengandung (kata Dr. Salman Al-Farisi Dosen senior UPSI Malaysia). Ditengah gaya kepemimpinan TGB yang selalu menciptakan sense of belonging rasa memiliki dan saling percaya dan memotivasi atau dalam bahasa Warren Bennis, gaya kepemimpinan affiliative. Walau ada sebagian berpendapat bahwa gaya kepemimpinan yang dibutuhkan sekarang adalah gaya movement atau pendobrak yang melakukan gerakan-gerakan besar, gaya retorik yang hebat walau kadang kontroversial. Tetapi TGB berbeda memandang hal ini, bagi TGB cara-cara kontroversial itu adalah cara lama dan sekarang sudah tidak relevan lagi, karena sejatinya semua anak bangsa terus mengikuti perkembangan global/ melek IT dan harus didekati dengan pendekatan soft approach. Don Tapscott menyebutnya generasi net (net generation). Jika dulu pendekatannya analog, harus dengan mengangkat senjata berperang melawan penjajahan, sekarang tidak adalagi penjajahan secara fisik, hanya saja yang marak sekarang tirani ideologi yang memungkinkan kita tidak bisa berseberangan pandangan lalu darah di halalkan tidak ubahnya zaman halal lepang (Sasak term artinya, zaman kodok menjadi halal). Hipotesa bersama sahabat Indonesia diaspora ketika berdiskusi masalah bangsa melihat bahwa kegaduhan yang menari-nari hari ini di Indonesia murni berdasarkan kepentingan politik. Dengan menjadikan simbol-simbol agama sebagai manuver politik, mengkultuskan tokoh agama yang sesuai kepentingan politik. Ketika salah seorang menemukan ijtihadnya dan berbeda pandangan dan kepentingan politik, saat itu tokoh tersebut tak lagi dianggap pada jalan yang benar bahkan konon tidak mendapatkan hidayah maka tokoh itu dengan bersegera diabaikan. Dan hipotesa tersebut terbukti melalui sikap TGB bahwa puja-memuji hanya berdasarkan kepentingan bukan atas nama akal sehat, “anda sehat” (kata sahabat saya Mastur Sansoka salah seorang dosen di Lombok). Begitu juga sebaliknya pemikiran anti NKRI, anti Kbinekaan dan lain sebagainya yang terlempar tersemat pada kubu yang berseberangan. TGB hadir tidak ingin diantara dua konstelasi pembenaran tersebut, TGB hanya ingin menempatkan dirinya sebagai penyeimbang sosial (social equilibirium) ditengah-tengah ketidakberimbangan ini tetapi tentu keberimbangan bukan berarti tidak ada pilihan, karena punya sikap politik dan tidak punya sikap politik bukan berarti selalu tidak objektif, dan subjektif, tetapi bisa saja mereka yang apatis pada sikap politik ia sesungguhnya sedang bermain pada tingkat subjektivitasnya. TGB sebagai Gubernur termuda dua periode, hafizun Quran adalah sebuah entitas keperibadian yang lengkap. Berbicara seadanya, membalas sumpah serapah dengan senyum dan berhuznuzon adalah sikap TGB sebagai penyeimbang. Lantas masyarakat tercengang dan sadar bahwa polarisasi yang sangat masif hari ini bukan memperjuangkan agama tapi hanya memperjuangkan birahi politik. Kita harus open minded pada realita politik Indonesia yang biurlantur/oregade (ribut) dengan berbagai isu, sesungguhnya muaranya dari kepentingan dan telah menyulap kata-kata menjadi begitu liar yang keluar dari makom denotasinya, sehingga membersitkan konotasi-konotasi liar dan menjadi tontonan beberapa tahun terakhir ini dan masih menabuh genderangnya dimana-mana. Ditengah berbagai isu yang kontroversial tersebut, dan sengitnya kepentingan politik, nama TGB muncul tiba-tiba mendukung pertahana bapak Jokowi untuk bertarung dalam pilpres 2019. Dan tentu banyak yang gagap karena keputusan TGB yang diluar dugaan sebagian orang. Ada juga sebagian kocar-kacir karena selama ini TGB dijadikan sebagai kuda pacunya dan sekarang sudah tidak jinak lagi. Yang dulu memuja-muji kini sebaliknya. Dalam ruang seperti itu, tampak bahwa TGB hadir melawan kemapanan pemujanya dan orang yang mengelu-elukannya. Berbalik arus bah air bandang yang datang menyapu dan meluluh lantakkan kesonggongan. TGB telah menunjukkan dirinya memiliki kemapanan berpoitik dan tidak tergerus oleh koor dan apologi pemujanya. TGB memang ngoncer (mulai kelihatan) jadi pembicaraan nasional, terpampang namanya pada headline beberapa koran akbar dan sering di undang TV swasta ternama belakangan ini. Banyak yang tercengang melihat ketendehan atau kesantunan dan budi bahasa TGB yang menjadi magnet bagi mereka yang baru kenal. Ketendehan atau kesantunan yang beliau tunjukkan adalah kesantunan orang sasak yang selalu ramah dan tak cepat lupa terhadap budi baik orang, bahkan sikap orang sasak yang menahan lidahnya sendiri untuk kebaikan orang lain dan menahan diri mencibiri sesuatu yang ia tak suka demi menyelamatkan muka orang (face saving dalam teorinya Brown dan Levinson yang dipinjam dari Goffman). Begitulah cara orang Sasak menjaga keseimbangan dengan ketendehan. Motivasi ketendehan tersebut bagi manusia Sasak adalah kenderaan untuk penyelenggaraan keseimbangan sosial dan sebagai bentuk dukungan interpersonal untuk mengelakkan konfrontasi, meminjam bahasanya Prof. Mahyuni, menjadikan ketendehan sebagai gerakan sosial pembangunan (sosial capital). Dua layer diatas sedang diperankan oleh TGB, baik beliau sebagai penyeimbang (equilibirium) dan mengelakkan priksi-priksi (confilict avoidance) yang terjadi antara anak bangsa. Jika TGB berhasil dalam sikapnya maka TGB telah membuat sejarah baru tentang konseptualisasi identitas luar jawa yang tentu saja tidak jauh beda dengan daerah luar jawa lainnya menjadi subordinat dalam kepemimpinan nasional. Bak adigum “siapa yang mampu mempersunting dara betawi, dia sudah menguasai Indonesia”. Adigum ini tentu tidak lahir dalam fikiran yang hampa, tetapi ia adalah bentuk konseptualisasi fikiran yang telah memproduksi kognisi masyarakat dalam melihat dunianya. Sehingga kemudian konseptualisasi tersebut berangsur-angsur menjadi sistem, keyakinan dan politik kebudayaan. Jika TGB hadir hari ini mewakili identitas lokalnya yang mencesuar menjadi nasional adalah menjadi preseden buruk dalam sejarah generasi entitas masyarakat pinggiran, jika abai dan mengercitkan dahi sambil menundukkan pandangan tak bersuara untuk TGB. Maka tetaplah menjadi bagian subordinat alias panjak selaek-lecek (selamanya) karena tidak peka menerjemahkan arah angin yang bertiup mendekat yang seolah-olah mengatakan “ayo saatnya mengukir politik kebudayaan kita. (Kalah sik dengan toak laek [orang tua dulu] cukup menerjemahkan pergantian musim dari hembusan angin dan dari hitungan bintang di langit). Maka TGB on the right track? TGB telah memantik daya imagi teritori yang selama ini tak terdengar dan laku suaranya. TGB sebagai simbol space identitas untuk memberikan alarm agar tak terus bermental second hand alias slaver. Jika gerakan creative minority ini masif dan terus bersumber dari entitas-entitas kecil, maka tak akan terdengarlah ‘politik apabila’, yaitu apabila menguntungkan diakomodasi, apalagi tak menguntungkan dalam kalkulasi politik diabaikan, ‘kognisi politik apabila’ yang dimetaforkan bagi entitas yang tak memiliki kesadaran politik kebudayaan. TGB on the right track, tetapi, kita juga mesti memperhatikan in the right direction yaitu tujuan yang tepat, sebab on the right track saja tidak cukup, mesti merapikan tujuan yang jelas sehingga kita bisa mengatur on the right speed untuk mengayuh lebih cepat agar mencapai tujuan yang hebat. Dan ketiganya itu harus masuk dalam on the rigth secure dan safety agar aman sampai tujuan. Karena gerbong kapal yang dibawa mesti dipastikan tidak ada kebocoran dengan demikian penumpangya selamat sampai ketepian dengan kecepatan maksimal. So,, apakah TGB on the right track?. Tabek wallar,

Read More......

2.13.2017

DONALD TRUMP DAN DAMPAK POLITIKNYA UNTUK INDONESIA

Dalam pandangan Donald Trump dan para pembatunya, bahwa semua umat Islam itu ektremis dan memiliki potensi menjadi teroris oleh karenanya dapat mengancam keberadaan Amerika kedepan. Walaupun faktanya bahwa banyak Muslim yang berjuang dan rela mati untuk Amerika dan sudah memberikan konstribusi yang banyak untuk ekonomi Amerika. Tetapi Trump membisu, ketika fakta itu disuguhkan. Sejatinya yang menjadi ektrimis dan teroris adalah non-muslim yang dibuat oleh Amerika sendiri satu contoh ketika jamaah masjid Quebec City di Kanada diserang secara berutal pada minggu, 29 Januari 2017, dan menewaskan kalangan umat Islam, tidak ada yang bersuara lantang bahwa itu teroris, bahkan dalam berita CNN tanggal 31 Januari 2017, tidak menyebut kejadian tersebut sebagai perbuatan teroris namun CNN memberi istilah “Lone worf” atau serangan serigala. Ironi bukan? Memang harus diakui bahwa dulu dan bahkan sekarang ketika Trump sudah diambil sumpahnya sebagai orang nomor satu di Amerika, benih-benih SARA itu kembali menggelinding. Sebagian masyarakat Amerika khususnya warga berkulit putih menganggap bahwa rasisme menjadi sematan bagi warga berkulit hitam, dan mereka yang berkulit hitam adalah biang keladai dari bangsa pemerkosa, perampok, dan pemicu kriminal. Sehingga muncullah gerakan kesetaraan dan menghapus penamaan terhadap warga kulit hitam tersebut dari Martin Luther King dan Nelson Mandela, yang mematahkan dan membendung isu-isu negative terhadap bangsa hitam, mereka bisa membuktikan bahwa bangsa hitam bukan seperti yang mereka anggap dan mereka sadar bahwa itu salah dan tidak berasalan diberikan sematan penamaan demikian. Hingga akhirnya, Tepat 2008, ketika Barack Obama terpilih menjadi presiden, nampaknya pandagan-pandagan mulai berubah lebih baik terhadap warga minoritas dan kaum Muslim. Akan tetapi ketika Donald Trump diambil sumpahnya pada tanggal 20 Januari 2017, semuanya berubaah drastis, dimana Umat Islam sebagai minoritas disana menjadi huatir, bahkan orang Indoneisa yang sedang berada disana baik yang bekerja atau sebagai pelajar dan mahasiswa menjadi tidak tenang dengan kebijakan bombastis Trump di awal pemerintahannya, karena Trump mengangap kaum minoritas khususnya umat Islam sebagai penyakit social yang harus dibatasi bahkan diberangus dari Amerika. Kalau dilihat ke belakang dan membuka sejarah kelam Jerman misalnya, maka 27 Januari 2017 adalah kelahiran Adolf Hitler baru bernama Donald Trump, yang memiliki sifat yang mirip dalam hal tertentu. Kalau Trump akan memberangus sedikit demi sedikit Umat Islam beda objek dengan Hitler yang memberangus Yahudi pada masa itu. Tetapi ada beberapa Islamopobia yang masih mendukung Trump karena beberapa alasan, seperti, dia baru saja mengambil sumpah sebagai Presiden oleh karena itu harus diberikan kesempatan untuk memenuhi janjinya. Memang benar bahwa Trump telah memenuhi beberapa janji kampanyenya antara lain moratorium izin imigrasi Negara-Negara yang mayoritas Islam. Terpilih menjadi presiden US bukan berarti dia bisa sewenang-wenang melakukan yang tidak sesuai dengan konstitusi yang tidak adil atau menindas kaum minoritas. Adolf Hitler terpilih menjadi konseler Jerman tahun 1933, dan Hitler telah benar-benar memenuhi janjinya dengan membasmi 6 juta orang Yahudi. Mungkin sebagian orang Amerika berpendapat bahwa apa yang dilakukan Trump saat ini adalah agar demokrasi berjalan, tetapi ini bertentantangan dengan demokrasi yang sebenarnya, dimana ada check and balance didalamnya bukan melakukan penindasan terhadap kaum minoritas, inilah saatnya kehancuran demokrasi Amerika yang mendewa-dewakan kesataraan, tetapi bertolak belakang dengan kenyataan. Buktinya, Trump telah mengeluarkan larangan ke tujuh Negara mayoritas umat islam. Keputusan inilah yang tampaknya yang paling kontroversial dari Trump sejauh ini, hal tersebut diakui oleh penduduk Amerika sendiri, para diplomatnya dan Negara Negara bagian. Bukan hanya itu lebih dari 100 perusahan teknologi menentang seperti, Google, facebook, apple, Microsoft, Twitter, E bay, Uber, Dll. karena perusahan tersebut memiliki para pekerja professional dari kalangan muslim yang telah memberikan kontribusi pada perkembangan perusahaannya. Trump dan konco-konconya telah luar biasa puyeng dan dihantui oleh fikirannya sendiri untuk membendung Amerika aman dari teroris, sehingga para pembantu Trump membuat slogan ‘alternative facts' atau fakta alternatif, ini adalah istilah baru kebohongan oleh para pembantu Presiden. Agar immigrant dari Negara-negara muslim tidak bisa masuk ke Amerika. Trump telah dikutuk bahkan oleh mantan presiden Barak Obama, bahwa yang dilakukan Trump ini tidak konstitusional dan tidak sesuai dengan misi dari PBB. Salah satu contohnya  Trump mendukung pemukiman illegal Israel di tepi barat untuk diduduki, yang seluruh dunia bahkan presiden sebelumnya mengacam hal tersebut, karena akan menghambat perdamaian antara Israel dan Palestina.  Trump juga keterlaluan dengan idenya akan memindahkan kedutaan Amerika dari Tel Aviv ke Yerusalem. Jelas ini merupakan ancaman terhadap upaya solusi dua Negara untuk menyelesaikan konflik antara Israel dan Palestina. dan akan memicu kekerasan baru di Timur Tengah, sebab masyarakat Internasional, termasuk Amerika telah mengakui bahwa Tel Aviv sebagai ibu kota Israel dan semua kedutaan Asing berada di kota ini. Dan kelihatannya Trump juga bersi kekeh dengan strategi global anti-muslimnya. Hal inilah yang membuat popularitas Trump menjadi 44% merupakan rating terendah untuk seorang presiden baru dalam sejarah Amerika. Ini adalah pertanda baik bahwa rakyat Amerika tidak terpengaruh oleh agitasi fantastic dari Trump. Memang Trump telah membatasi tujuh Negara mayoritas muslim untuk masuk ke Amerika, yaitu Iran, Irak, Libia, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman. Tetapi jika dia mendapatkan angina segar maka dia bisa memperpanjang larangan yang mencakup semua mayoritas muslim lainnya, termasuk juga Indonesia, jika hal tersebut terjadi maka umat Islam bahkan non-muslim juga akan dilarang masuk ke Indonesia. Banyak warga Indonesia berfikir, bahwa tindakan Trump sejauh ini tidak mempengaruhi Negara kita, bahkan ada juga dari kalangan non-muslim merasa kebijakan Trump tidak akan mempengaruhi mereka, pandangan ini jelas keliru, trump hanya baru mulai gendrang pertarungannya dengan beberapa Negara Muslim saja, dan tidak mustahil Indonesia sebagai mayoritas muslim juga menjadi bidikan Trump pada waktu akan datang. Wallohua’lam Bissawab.

Read More......

1.06.2017

PARADOKS DUA RIBU TUJUH BELAS


Arnold P. Toynbee, sejarawan yang dikenal dengan teori : Challege and Response, dalam bukunya the history of mankind, mengatakan, " setiap bangsa pada suatu saat dalam perjalanan sejarahnya akan menghadapi suatu tantangan yang begitu besar bahkan akan menggancam eksistensinya. Terserah pada bangsa itu untuk mengatasi tantangan yang datang itu, bangsa ini akan tenggelam dalam lintasan sejarah bila gagal menjawab tantangan tersebut dan menjadi bangsa yang datangnya tidak mengenapkan, perginya pun tidak mengganjilkan. Atau bila berhasil, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang kehadirannya akan diperhitungkan".
Genderang pergantian tahun 2016 Ke 2017 sudah mulai ditabuh, suaranya hingga menembus pelosok-pelosok desa. Pesta demokrasi disebagian desa di NTB juga sedang, akan, dan ada yang sudah berlalu, bagi yang “sedang” dan “akan” tentu segala janji kampaye menjadi pembicaraan alias pelagak lekong belah yang renyah dibincangkan sehari hari. Bagi yang sudah berlalu, tentu hanya menyisakan kekecewaan-kekecewaan akibat kekalahan jagoan mereka. Para elite politik papan atas juga membangun manifesto-manifesto gerakan untuk 2017 sebagai starting point dari gerakan yang lebih besar pada tahun berikutnya.  Ikrar Nusa Bhakti mengatakan "jika kita tidak berhasil mengonsilidasikan demokrasi kita pada 2014, indonesia bukan hanya menjadi negara gagal pada 2024, melainkan bisa juga menjadi Negara yang roboh dan hancur berkeping-keping pada 2050. hal tersebut kemungkinan bisa terjadi, jika para elite politik dibiarkan, atau masyarakat melakukan pembiaran terhadap kezaliman yang mengangga didepan kita. Sehingga tentu saja generasi muda bangsa ini harus menjadi menjadi agent of control dan agent of social equilibrium, sebab kita tidak tidak ingin Indonesia kelak hanya tinggal dipeta-peta, atau kita bisa meraih mimpi 2050 sebagai golden period dari bangsa Indonesia. Tetapi kita harus optimis hal tersebut bisa diraih, sebab negara yang kini menjadi Adidaya, sudah mulai ketakutan, kropos dan tidak bisa diharapkan dimasa depan, roda itu berputar; dari atas menuju ke bawah, era mendatang adalah peluang emas Indonesia. Indonesia memang dielu-elukan tetapi Indonesia adalah masa depan, walau Paradoks tentang Indonesia masih mendarah daging seperti: "Kita kaya tapi miskin (Kekayaan SDA melimpah, tapi miskin penghasilan). Kita besar tapi kerdil (amat besar wilayah & penduduknya, tapi kerdil dalam produktivitas dan daya saing) . Kita kuat tapi lemah (kuat dalam anarkisme, lemah dalam tantangan global). Kita indah tapi buruk (indah dalam potensi dan prospeknya, namun buruk dalam pengelolaannya) mengapa masih terjadi paradoxial? Karena bangsa ini terkena penyakit orientasi. seperti yang diungkap Mantan Wakil Presiden RI Bacharudin Yusuf Habibie. Beliau menyampaikan bahwa "kita lebih mengandalkan SDA ketimbang SDM, Kita lebih berorientasi jangka pendek daripada jangka panjang, Kita lebih mengutamakan citra daripada karya nyata, Kita lebih melirik makro daripada mikro , Kita lebih mengandalkan cost added daripada value added, Kita lebih berorientasi pada neraca pembayaran dan perdagangan daripada neraca jam kerja, Kita lebih menyukai jalan pintas (korupsi, kolusi, penyelewengan dsb) daripada kejujuran dan kebajikan, Kita lebih menganggap jabatan (power) sebagai tujuan daripada sebagai sarana untuk mencapai tujuan (power centered rather than accountable /amanah). Jika kita mampu menghilangkan penyakit orientasi tersebut maka tunggu apa yang akan terjadi "itu" (meminjam bahasa Mario Teguh dalam golden way). Rakyat Indonesia akan menjadi tuan di negaranya sendiri dan Indonesia emas 2020 yang menjadi visi besar yang emban oleh para pendekar ESQ 165 dan seluruh rakyat Indonesia akan menjadi kenyataan. Indonesia emas mengisyarakatkan kesuksesan menyelesaikan masalah pada berbagai ranah kehidupan, Indonesia yang bangkit dari segala ketertinggalan. hal tersebut akan tercapai bila penyakit orientasi diatas mampu diluluh lantakkan. Untuk mencapai itu, pentingya sebuah paradigm baru serta hadirya sosok pemimpin baru sebagai nahkoda yang akan membawa bahtera yang bernama Indonesia ini ketepian kemajuan. Menurut Anies Baswedan, pemimpin bukan soal kecerdasan, kharisma, komunikasi, tampilan dan segala macam atribut yang biasa dilettakan pada figure pemimpin. Disebut pemimpin atau tidak adalah soal ada tidaknya yang mengikuti. Dalam rumusan sederhana pemimpin adalah soal pengakuan dari yang dipimpin. Seorang diakui sebagai pemimpin bila kepadanya diberikan kepercayaan. Sehingga dalam rumusan sederhana Baswedan mengungkapkan, pemimpin adalah orang yang diikuti kata-kata dan perbuatannya. Diikuti karena dipercaya, karena kepercayaan adalah kombinasi dari kompetensi, integritas dan kedekatan. Ketiga faktor ini meningkatkan tingkat kepercayaan. Pemimpin harus menjadi pemimpi, sebab pemimpin yang mampu mengabungkan mimpi menjadi realita bisa disebut sebagai pemimpin. Lalu peminpin juga selalu disorot, pemimpin harus siap menerima pujian dan kritikan, jika tidak mau dikritik jangan bermimpi jadi pemimpin, pemimpin yang tidak terbang ketika dipuji dan tidak tumbang ketika dicaci itulah pemimpin harapan kita, seorang pemimpin yang setiap hari diterpa keadaan sulit, jatuh dan mampu bangkit kembali (top and down) inilah pemimpin masa depan. dan pemimpin yang kita impikan adalah pemimpin yang tidak gila penghormatan tapi menjaga kehormatan. Mudah mendapatkan penghoramantan pada zaman ini, karena bisa dibeli dan dipanggungkan, sementara penghormatan itu bukan diperjual belikan, seorang peminpin yang gagasannya terhormat maka dengan sendiri dia akan mendapatkan kehormatan. "penghormatan itu foto sedangkan wajah adalah karakter, penghormatan itu bertahan seperti jamur, sedangkan karakter hidup selamanya, penghormatan itu apa yang orang katakan tentang kita diatas batu nisan, sementara karakter apa yang orang katakan tentang kita pada masa mendatang dan hidup selamanya". Maka sebagai manifesto gerakan 2017, pemimpin harus memiliki mimpi, nyali yang besar, karakter yang kokoh dan pemimpin yang berintegritas. Indonesia membutuhkan pemimpin yang berani menegakkan integritas, berani perangi jual beli kebijakan dan jabatan, dan pemimpin yang berani pasang badan ketika rakyat dijarah oleh mereka yang memiliki jaringan. Bukan pemimpin yang diam ketika rakyat didera, lembek saat Negara dilecehkan, seorang pemimpin yang tidak membiarkan secuilpun rakyat dicendrai oleh siapapun. Pemimpin harus mampu menghadirkan suasana yang harmonies, pemimpin sebagai dirgen dalam pertunjukan orchestra sehingga musik yang dimainkan memiliki jiwa-nya, pemimpin hadir dengan Suasana memberikan arah, membawa misi dan menelurkannya pada rakyat. Dan yang kita butuhkan adalah pemimpin yang berorientasi pada gerakan, pendekatannya movement bukan programmatik sehingga semua merasa terpanggil untuk terlibat. Kita memerlukan pemimpin yang menginspirasi, membukakan perspektif baru, menyodorkan kesadaran baru dan menyalakan harapan jadi lebih terang. Indonesia yang lebih baik adalah harapan kita semua pada 2017.
 


Read More......

11.08.2016

TIMBAL BALIK DAN UMPAN BALIK OPINI LIGA SANTRI NUSANTARA




Read More......

2.02.2015

STUDI BUDAYA PRODI BAHASA INGGRIS FKIP UGR DI DESA ADAT SADE

Minggu, 25 Januari 2015

Fakultas keguruan dal Ilmu pendidikan (FKIP UGR) Prodi bahasa Inggris melaksanakan Studi Budaya di Desa Sade Lombok Tengah, yang diikuti oleh 25 Mahasiswa dan didampingi oleh 2 Dosen. Tujuan pelaksanaan kegiatan tersebut untuk menyelesaikan tugas mata kuliah english for tourism. selain itu, kegiatan tersebut sebagai ajang memetakan dan merencanakan promosi pariwisata di Nusa tenggara Barat. dalam kegiatan tersebut mahasiswa sudah disiapkan dengan instrumen yang akan diisi sesuai kondisi lapangan yang ditemukan, sehingga dari data yang didapat mahasiswa mampu memberikan solusi yang solutif untuk pembenahan destinasi wisata di Nusa Tenggara Barat. setelah pelaksanaan studi budaya ini, Mahasiswa berkewajiban untuk mempublikasikan objek wisata yang dikunjungi kedalam blog pribadi mahasiswa.

Read More......

1.12.2014

Menatap Masa Depan Indonesia

Gendrang pergantian tahun sudah ditabuh, suaranya hingga pelosok-pelosok desa, membuat orang diam berani bicara, orang pengecut berani berteriak, dan mereka yang sedang tidur langsung terjaga, lalu mereka mulai berdandan, mengatur ritme dan strategi untuk menyonsong tahun baru 2014 dengan kemungkinan-kemungkinan yang sulit ditafsir. Sebab pada 2014 Indonesia akan melaksanakan seabrek gawe besar yaitu pemilu presiden dan legislative. Pemilu 2014 tinggal menghitung bulan, tetapi disisi lain kita masih disibukkan dengan kecurangan kecurangan pemilu sebelumnya, lalu apakah kita siap melaksanakan pemilu berikutnya?,kekisruhan pemilu itu juga diurus dan diselesaikan oleh mereka yang bermasalah dan korup, dan lebih parah lagi Institusi yang bernama Mahkamah Konstitusi yang menjadi sandaran terakhir dari semua proses hukum di Indonesia, malah ketuanya yang ditangkap tangan oleh KPK, lalu kemana pelabuhan terakhir untuk mengadu? Seolah olah “menyelasaikan masalah dengan masalah baru.” Pertarungan yang tak wajar para elite politik dalam meraih kekuasaan serta korupsi oleh para kader partai yang berada dipemerintahan, sehinga ini menjadi cermin buram untuk pemilu berikutnya, maka wajar Ikrar Nusa Bhakti (professor riset bidang intermestic affairs-LIPI) mengatakan ”jika kita tidak berhasil mengonsilidasikan demokrasi kita pada 2014, indonesia bukan hanya menjadi negara gagal pada 2024, melainkan bisa juga menjadi Negara yang roboh dan hancur berkeping-keping pada 2050. Dan sejalan menarik juga apa yang disinyalir oleh, Arnold P. Toynbee, sejarawan yang dikenal dengan teori : Challege and Response, dalam bukunya the history of mankind kurang lebih mengatakan, “ setiap bangsa pada suatu saat dalam perjalanan sejarahnya akan menghadapi suatu tantangan yang begitu besar bahkan akan menggancam eksistensinya. Terserah pada bangsa itu untuk mengatasi tantangan yang datang itu, bangsa ini akan tenggelam dalam lintasan sejarah bila gagal menjawab tantangan tersebut dan menjadi bangsa yang datangnya tidak mengenapkan, perginya pun tidak mengganjilkan. Atau bila berhasil, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang kehadirannya akan diperhitungkan”. Tentu saja, hal tersebut tidak bisa ditentukan oleh para elite politik saja, melainkan pada kita semua generasi akan datang sebagai pemilik bangsa ini, apakah kita menginginkan Indonesia hanya tinggal dipeta-peta, atau kita akan meraih mimpi 2050 sebagai golden period bangsa seperti yang ditafsirkan oleh para ahli. Tetapi dengan optimis hal tersebut bisa kita raih. Sebab negara yang kini maju, sudah tidak bisa diharapkan dimasa depan, roda itu berputar; dari atas menuju ke bawah, era mendatang adalah kesempatan Indonesia sebab tidak ada lagi dalam daftar negara adidaya dimasa depan seperti Jepang, Amerika, German, UK. Indonesia memang masa depan, walau Paradoks tentang Indonesia masih mendarah daging seperti: “Kita kaya tapi miskin (Kekayaan SDA melimpah, tapi miskin penghasilan) . Kita besar tapi kerdil (amat besar wilayah & penduduknya, tapi kerdil dalam produktivitas dan daya saing) . Kita kuat tapi lemah (kuat dalam anarkisme, lemah dalam tantangan global). Kita indah tapi buruk (indah dalam potensi dan prospeknya, namun buruk dalam pengelolaannya) mengapa masih terjadi paradoxial? Karena bangsa ini terkena penyakit orientasi. seperti yang diungkap Mantan Wakil Presiden RI Bacharudin Yusuf Habibie. Beliau menyampaikan bahwa “kita lebih mengandalkan SDA ketimbang SDM, Kita lebih berorientasi jangka pendek daripada jangka panjang, Kita lebih mengutamakan citra daripada karya nyata, Kita lebih melirik makro daripada mikro , Kita lebih mengandalkan cost added daripada value added, Kita lebih berorientasi pada neraca pembayaran dan perdagangan daripada neraca jam kerja, Kita lebih menyukai jalan pintas (korupsi, kolusi, penyelewengan dsb) daripada kejujuran dan kebajikan, Kita lebih menganggap jabatan (power) sebagai tujuan daripada sebagai sarana untuk mencapai tujuan (power centered rather than accountable /amanah). Jika kita mampu menghilangkan penyakit orientasi tersebut maka tunggu apa yang akan terjadi “itu” (meminjam bahasa Mario Teguh dalam golden way). Rakyat Indonesia akan menjadi tuan di negaranya sendiri dan Indonesia emas 2020 yang menjadi visi besar yang emban oleh para pendekar ESQ 165 dan seluruh rakyat Indonesia akan menjadi kenyataan. Indonesia emas mengisyarakatkan kesuksesan menyelesaikan masalah pada berbagai ranah kehidupan, Indonesia yang bangkit dari segala ketertinggalan. hal tersebut akan tercapai bila penyakit orientasi diatas mampu diluluh lantakan. Untuk mencapi itu, pentingya sebuah paradigm baru serta hadirya sosok pemimpin baru sebagai nahkoda yang akan membawa bahtera yang bernama Indonesia ini ketepian kemajuan. Menurut Anies Baswedan, pemimpin bukan soal kecerdasan, kharisma, komunikasi, tampilan dan segala macam atribut yang biasa dilettakan pada figure pemimpin. Disebut pemimpin atau tidak adalah soal ada tidaknya yang mengikuti. Dalam rumusan sederhana pemimpin adalah soal pengakuan dari yang dipimpin. Seorang diakui sebagai pemimpin bila kepadanya diberikan kepercayaan. Sehingga dalam rumusan sederhana Baswedan mengungkapkan, pemimpin adalah orang yang diikuti kata-kata dan perbuatannya. Diikuti karena dipercaya, karena kepercayaan adalah kombinasi dari kompetensi, integritas dan kedekatan. Ketiga faktor ini meningkatkan tingkat kepercayaan. Pemimpin harus menjadi pemimpi, sebab pemimpin yang mampu mengabungkan mimpi menjadi realita bisa disebut sebagai pemimpin. Lalu peminpin juga selalu disorot, pemimpin harus siap menerima pujian dan kritikan, jika tidak mau dikritik jangan bermimpi jadi pemimpin, pemimpin yang tidak terbang ketika dipuji dan tidak tumbang ketika dicaci itulah pemimpin harapan kita, seorang pemimpin yang setiap hari diterpa keadaan sulit, jatuh dan mampu bangkit kembali (top and down) inilah pemimpin masa depan. dan pemimpin yang kita impikan adalah pemimpin yang tidak gila penghormatan tapi menjaga kehormatan. Mudah mendapatkan penghoramantan pada zaman ini, karena bisa dibeli dan dipanggungkan, sementara penghormatan itu bukan diperjual belikan, seorang peminpin yang gagasannya terhormat maka dengan sendiri dia akan mendapatkan kehormatan. “penghormatan itu foto sedangkan wajah adalah karakter, penghormatan itu bertahan seperti jamur, sedangkan karakter hidup selamanya, penghormatan itu apa yang orang katakan tentang kita diatas batu nisan, sementara karakter apa yang orang katakan tentang kita pada masa mendatang dan hidup selamanya”. Maka sebagai manifesto gerakan tahun 2014, pemimpin harus memiliki mimpi, nyali yang besar, karakter yang kokoh dan pemimpin yang berintegritas. Indonesia membutuhkan pemimpin yang berani menegakkan integritas, berani perangi jual beli kebijakan dan jabatan, dan pemimpin yang berani pasang badan ketika rakyat dijarah oleh mereka yang memiliki jaringan. Bukan pemimpin yang diam ketika rakyat didera, lembek saat Negara dilecehkan, seorang pemimpin yang tidak membiarkan secuilpun rakyat dicendrai oleh siapapun. Pemimpin harus mampu menghadirkan suasana yang harmonies, pemimpin sebagai dirgen dalam pertunjukan orchestra sehingga musik yang dimainkan memiliki jiwa-nya, pemimpin hadir dengan Suasana memberikan arah, membawa misi dan menelurkannya pada rakyat. Dan yang kita butuhkan adalah pemimpin yang berorientasi pada gerakan, pendekatannya movement bukan programmatic sehingga semua merasa terpanggil untuk terlibat. Kita memerlukan pemimpin yang menginspirasi, membukakan perspektif baru, menyodorkan kesadaran baru dan menyalakan harapan jadi lebih terang. Oleh karena itu, apapun posisi dan jabatan kita hari ini, mulailah menjadi aktor bukan penonton sehingga kita bisa melihat masa depan Indonesia yang lebih baik. Wassalam.  

Read More......

7.20.2013

Presiden Uruguay Tidak Mengenal Nabi Muhammad SAW

Jose yang nama lengkapnya Jose Alberto Mujica Cordano barangkali ia tidak pernah membaca sejarah Nabi Muhammad SAW, apalagi mengenal beliau, tetapi kepemimpinan dan kesederhanaannya seolah menteladani Rasullalloh, bagaimana tidak seorang yang menjadi nomor satu di Uruguay tinggal disebuah perkampungan pertanian (farmhouse) yang jauh dari kota. Pepe panggilan akrab teman-temannya menolak tinggal dirumah dinasnya di Montevideo ibu kota Uruguay. bahkan ia menyumbangkan 90 persen gajinya setiap bulan yaitu, 12.000 dollar AS atau hampir Rp 120 juta untuk berbagai kegiatan amal.
Sehingga, Presiden Uruguay ini disebut sebagai presiden termiskin di dunia, tetapi dengan sangat filosofis ia menjawab semua pemberitaan terhadap dirinya ‘” saya disebut presiden termiskin didunia, tetapi saya tidak merasa miskin, orang miskin adalah mereka yang bekerja untuk menjaga gaya hidup mewahnya dan selalu menginginkan lebih”
“ini adalah masalah kebebasan, jika anda tidak memiliki banyak barang maka anda tak perlu bekerja keras dan mempertahankannya dan bekerja seumur hidup layaknya budak, dengan seperti ini anda lebih banyak waktu untuk diri sendiri”
Potret pemimpin seperti Jose ini sangat langka didunia, apalagi di Indonesia yang seharusnya meniru keperibadian Rasullalloh karena mayoritas rakyatnya beragama Islam, sederhana bukan berarti tidak menglobal cara berfikir dan berbuat, seperti Sang Rasul kesederhanaan dan sama kata dan perbuatan beliaulah yang mengetarkan dunia,. sehingga tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan Jose menteladani Nabi Muhammad walau ia sendiri tak pernah membaca sejarah kerasulan beliau, tetapi potret yang ditampilkan Jose memiliki ruh yang sama dengan ajaran Nabi Muhammad SAW yaitu Islam.
banyak pernyataan klise tentang kehidupan Jose Presiden Uruguay yang satu ini,” cari-cari popularitaslah” dan pernyataan lainnya, apalagi dunia yang dijalani oleh Jose adalah dunia politik tidak bisa dinapikan pasti ada yang pro dan kontra. terlepas dari semua itu, Khalifah umat Islam keempat menyatakan ” kebenaran yang dicari kemudian salah tidaklah sama dengan kebatilan yang dicari kemudian kita mendapatkannya” (Ali Bin Abi Tholib)
Sekarang bagaimana pemimpin di Negeri yang bernama Indonesia? tentu saja sulit mencari Jose berikutnya. tetapi bangsa ini harus optimis suatu saat kita akan menemukan pemimpin yang bisa diteladani oleh rakyatnya karena dunia ini terus berputar “zero to hero”

Read More......

7.18.2013

Part 2. Akhirnya Agus Pulang.!!

Belasan hari lamanya Agus dan saudaranya tak muncul batang hidung, akhirnya aku berpapasan dengan bapaknya Agus‘eh pak Made "kije Agus? (bahasa bali) Bapaknya menjawab liburan ke rumah neneknya (sentak aku berfikir gaya sekali agus pergi liburan kerumah neneknya di Karang Asem),,o ya liburan sekolah walaupun agus tak sekolah tapi ikut liburan juga MANTAP, sebab satu cita-cita bapaknya untuk Agus dia tak perlu sekolah tinggi-tinggi sebab kelak kalau besar Agus menjadi tukang gocek ayam,,hha,,”super sekali” (Mario teguh). Ternyata tadi pagi aku melihat ia sudah pulang liburan karena libur sekolah sudah usai (tak sekolah tapi liburan pula). Pantes saja pak made tidak kelihatan beberapa hari ternyata ia pergi menjemput Agus di karangasem. Mengapa agus yang aku cari padahal banyak teman seusianya disamping kontrakan, tetapi dialah bagi saya yang berbeda dari temannya yang lain, sebab selalu setiap siang bolong Agus mulai membangunkan seisi kontrakan dengan tendangan madunnya..(Tendagan madun,,darrrr) bola bertubrukan dengan tembok ,,(pasti ulahnya agus gerutuku) ternyata betul dia bermain dengan sapi ompong..sebutan ku untuk temannya Agus yang tak punya gigi, ya sama juga nakalnya tetapi agus lebih dari nakal dan kuat walaupun perawakan dia kecil tetapi kalau dua tiga kali jatuh agus tak akan menangis tetapi kalau temannya yang lain pasti nangis.
Nah,,,mulai sudah episodenya madun dikontrakan GECEK (Gerakan Cendikiawan) kataku karena Agus sudah pulang. Tetapi kami memiliki cara ampuh agar Agus berhenti main bola yaitu dikasi uang untuk beli permen atau disiapkan permen sebagai sogokan agar ia tak bermain bola, setelah itu dia pasti nurut apapun yang saya suruh, itulah agus, selalu mencari gara-gara, sehingga ketika berlibur kerumah kakeknya, kontrakan kami terasa nyaman, tetapi saya merasa ada yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Ya itulah manusia kadang apa yang ia benci suatu saat bisa saja ia mencintainya, dan apa yang kita cintai suatu saat bisa saja kita benci…diatas segalanya janganlah terlalu untuk hal tersebut..sebab kita sering merindukan sesuatu ketika hal tersebut tidak ada..continued.

Read More......

7.10.2013

Part 2 Sholat Teraweh di Kota Singa (a spiritual journey) the series; Puasa di Pulau Dewata,

Aku tidak mendengar suara adzan berkumandang seperti dikampungku lombok yang suara adzannya bersahutan, disini seperti berada dalam sebuah hutan belantara yang terdengar hanya bising burung berkicau, yang diganti oleh deru mobil. Anda harus menjadi seorang petapa yang memiliki daya nyali rasa agar anda waspada pada terkaman singa waktu, jika tidak semuanya akan kelewatan, Zuhur, Asar, apalagi magrib tentu akan lewat, sebab tidak signal yang akan mengisyaratkan hal tersebut.
Selesai berbuka puasa dengan makanan seadanya, ada sate kambing, opor telur ayam, dan campur gerupuk, ditemani es buah wah sempurna sekali, selesai makan langsung bergegas berangkat ke masjid sebab kalau terlambat ditinggalkan oleh pilot sholat (Imam Sholat). Ini malam pertama saya teraweh dengan imam sholat yang luar biasa lembutnya,(lama) tidak seperti dikampung saya dua puluh menit sudah selesai sholat teraweh, dengan system jet tempur “istilah kami dulu” tetapi jangan terlalu cepat dan lama juga ya sedang-sedang saja,,..(aku menggerutu, malam ini lama sekali terawehnya) bayang pandangku jauh kebelakang ketika masih kecil kami pindah-pindah setiap malam ke musholla yang berbeda-beda untuk sholat teraweh, tentu tempat pencarian terakhir adalah imam sholat yang paling cepat, melebihi jet tanpa awak amerika itu (ceritanya). Lucu memang tetapi itulah yang terjadi.
Kali ini, aku berada di kota singaraja, sebagai icon Bali kota pendidikan, yang memiliki jargon Singaraja Smile (bersama bupati Baru PAS). Teraweh di masjid Jami’ adalah adalah sebuah pilihan yang harus dan pengalaman pertama. Semua masyarakat muslim Singaraja membanjiri masjid, tetapi yang mengejutkan pada rakaat pertama masih penuh sampai saff paling belakang, pada rakaat ke 4 tinggal 50 % jamaah semuanya kabur,,ya aku positif thinking saja barangkali berbeda mazhab, yah biarkan saja atau semuanya kebelet pingin buang air besar. Positif thinking saja, masak sedang ibadah masih ada perasaan tidak baik yang menggoroti hati kita. Tetapi aku bersyukur bisa teraweh di negeri sendiri, dulu waktu di Bangkok dan Singapore kami tidak punya kesempatan teraweh di Masjid, walau kami pergi ke little India di komplek Mustafa supermarket yang buka 24 jam di Singapore yang memiliki masjid besar disampingnya tetapi tetap saja tidak bisa. Tetapi seperti kata penggelamang alias sang musafir, “bukan tempat yang menuntun kita menuju ketepian, tetapi rasa yang menaungi kita sebagai kompas sampai ke tujuan” ya,,memang tempat penting tetapi tidak harus,,yang penting kita taddabur raga dan sukma kita. Allamdullilah Ya Allah dimanapun aku berada Kau berikan kenikmatan Ibadah..continued...

Read More......

Agus Agus

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerab ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal (Iwan Fals) 

 
Sungguh, jemari ini tak bisa menari dengan alpabeta, karena kebiasaannya telah ditinggalkan sudah sangat lama,,tetapi ada sesuatu yang membuatnya harus kembali menulis sebuah aksara yang tak bisa dibendung, ah..ini semua terjadi karena anak itu,,,!ya seorang anak yang setiap hari aku lihat berebut makanan dengan empat saudaranya, mereka masing-masing diberikan sama-sama dua suap nasi oleh ibunya sekedar untuk menganjal perut,,, ahhhh pantas saja, kemaren aku melihat anak yang paling kecil dari mereka mengais bekas makanan di tong sampah didepan tempat saya tinggal, aku sengaja saja tidak melihatnya ia menjilati bekas bungkus es,,perasaanku teriris,, sambil memaki-maki pada bapaknya dalam hati, Bapaknya namanya Made ia tak punya pekerjaan bukan hanya itu lebih parah lagi ia tak mau bekerja, ya,,cuman mengandalkan togelnya setiap satu bulan keluar 90 ribuan itupun kalau ia beruntung. sekarang ditambah lagi istrinya hamil lagi, jadi bisa dipastikan anaknya yang lima orang itu lahir setiap tahun, luar biasa itulah yang menjadi pekerjaannya yang terberat, saya menggurutu lagi..seinggat saya dulu pak Made biasa panggilan akrab kami pernah bekerja jadi tukang parkir ditempat adu ayam (gojekan) ya lumayan asap dapurnya bisa mengepul setiap hati, sehingga sampai-sampai anaknya yang bernama Agus disuruh bercita-cita menjadi pengocek ayam yang selalu menang..haa..sederhana sekali cita-cita bapak ini kepada anaknya..cerita-demi cerita dari tetangga pak made ini sebenarnya keluarnya orang besar-besar cuma ia tak mau bekerja ditempat keluarganya apalagi istrinya juga termasuk orang kaya di karang Asem, tetapi ia tak mau lebih mau ia ngekos bersama kelima anaknya semuanya tinggal diukuran kamar 3x4.
setiap hari aku mendegarnya mengkritik kebijakan negara ini, yang tak berpihak pada keluarha miskin,,katanya aku tidak pernah dapat BLSM selama minyak tanah dinaikkan oleh pemerintah, ia terus mengguruti akhirnya kembali pada ego aslinya, memang aku juga tidak mau dikasi sampah seperti itu..aneh memang diserba keterbatasannya ia masih ngengsi apalgi kerja semrautan..continued

Read More......

7.09.2013

Berpuasa di Pulau Dewata (Sebuah Catatan)

Tidak ada satupun yang berubah, baik rasa maupun kebinggeran sehari-hari, tetap saja seperti biasa suara bising sepeda motor dan mobil menderu-deru, dan bau kemeyan didepan tempat tinggalku juga tak berubah, dan lagu-lagu keagamaan disenandungkan oleh para mangku pure. Aku seolah tak percaya apakah hari ini awal puasa atau tidak, lalu segera melihat kalender islam yang di bagikan oleh calon DPD Bali yang katanya satu-satunya wakil ummat Islam di Bali,,o ya ternyata benar besok berpuasa..dan tetangga disamping kontrakan juga mengucapkan selamat berpuasa, dan bertanya ”endak pulang Pak?,,aku jawab saja santai,,”endak, sudah biasa diluar berpuasa” walau berat sesunggunya berpuasa jauh dari keluarga, yah tetapi hal ini sering terjadi,, tahun kemaren aku berpuasa di negeri orang,, Thailand. disana cari makan yang halal susah, ya untung ada durian Bangkok yang selalu menjadi pengganjal perut walau pernah mabuk karena kebanyakan makan, sebelum dapat tempat makan ya…yang kami tidak tahu halal atau tidak, terpaksa harus makan walau hanya memesan ikan bakar…dan nasi doang..hal ini juga terjadi waktu aku di Singapore walau disana boleh dibilang lebih banyak restoran yang halal ketimbang di Bangkok, tetapi tetap saja kami kelaparan dulu sebelum sampai di restoran yang kami tuju.. waktu itu aku tinggal di kawasan Orchad pusat kota Singapore ternyata tetap saja yang paling enak dinegeri sendiri walau makan pelecing kangkung.. Yah,, sekarang kembali lagi berpuasa di pulau dewata, sudah dua tahun berturut-turut aku berpuasa di Bali, seperti biasa selalu jauh dari nuansa-nuansa bulan Ramadhan, tidak seperti di Lombok yang setiap merebot masjid, Mushalla menyampaikan pengumuman,,hallo-hallo Inak Amak semeton jari bareh Bian-bian taok te roah kembian jari ndak pade lupak jok masjid shalat terawih berjamaah, sak bini-bini jauk dulang endah” (hallo-hallo bapak/Ibu nanti sore kita akan roah kembian (bawa makanan ke Masjid untuk Ibu-Ibu dan makan bersama) dan jangan lupa mulai malam ini kita sholat teraweh berjamaah, dan ibu-ibu bawa dulang (semacam tempat makanan)” ya itulah kebinggeran yang selalu menjadi nuansa kami berpuasa di pulau lebih dari seribu Masjid Lombok. Malam hari anak-muda, tua laki-perempuan tadarrusan di masjid (membaca alquran bersama). Hal ini semakin mengingatkanku pada Lombok dan aku tidak dapatkan disini. Walau demikian, aku memiliki cara sendiri untuk merasakan itu, aku percaya bahwa ada yang lebih essensi dari semua yang berbau ceremonial, yaitu merubah maindset/cara berfikir, menuju Tadabbur Hati (merasakan sesuatu lebih tajam ketimbang kita mengucapkannya) ya tadabbur saja, toh pun sama dimana bumi kita pijak disana Tuhan selalu bersama kita.. Tadabbur harus dilakukan oleh semua Umat Islam untuk merasakan berpuasa itu dalam hati bukan hanya berhenti dari makan dan minum,,orang yang melakukan Tadabbur mereka akan bertannya,, Pernahkan aku merasakan kelaparan yang diderita oleh saudara-saudara saya yang memang tidak makan karena tidak ada makanan? Kita terus melakukan tadabbur pada diri kita, menajamkan mata bathin, memperhalus sukma yang setiap hari menerima keadaan yang berubah-rubah,,makanya puasa adalah lading menstabilkan semuanya… continued…

Read More......

6.11.2013

Study Banding Kepala SMK Lombok Timur Ke Singapore & Kualaumpur

                                           
                                                 Putra Jaya (Pusat Pemerintahan Malaysia)
                                                                 Pose di Merlion

Read More......

2.17.2013

ENGLISH LANGUAGE TEACHING METHOD PROBLEM SOLVING

A. Introduction All teachers are likely to agree that they not only want their students to understand information that is presented to them but also want them to understand what they are doing when they are solving problems or conducting an experiment. In helping the students develop any real understanding of the subject taught, the teachers will have to teach them how to think, how to make decision, and how to learn from their experiences both in and out of school. To do this, the teachers need to select the teaching strategies carefully so that they suit both their students and the subject matter they are teaching. Jones & Idol (1990) stated that such strategies or approaches have in common an understanding that learners construct knowledge by making connections between their prior knowledge and new information, and analyze new learning activities to determine the most effective approach to achieve learning goals. Cognitive instruction seeks to facilitate learning by making students aware of their own mental processes and by providing direct instruction in thinking and learning strategies. Nevertheless, the teachers may not find it easy to decide what teaching strategy to use for a particular lesson because the number of factors that should be considered is quite large. Having content knowledge is simply not enough to enable the teachers to teach effectively. The teachers must know how to engage the students in the learning process and know how to organize information so that others can learn it. How students learn is as important as what students learn because their learning experiences directly influence their willingness to engage in future learning and their future learning strategies. As a result, the requirements of the learners, the learning context, and the content must guide the teachers` selection of teaching strategies (Killen: vii-x). In this paper, we, in group work, will present one of the very common teaching strategies, that is, problem solving. The discussion of this paper comprises introduction, theoretical framework of the strategy, the anticipation of the strategy, the strengths and weaknesses, and the implementation of problem solving as a teaching strategy in classroom activity. B. Theoretical Frameworks Many current views of problem solving, such as described in Keith Holyoak and Robert Morrison's Cambridge Handbook of Thinking and Reasoning (2005) or Marsha Lovett's 2002 review of research on problem solving, have their roots in Gestalt theory or information processing theory. Gestalt Theory. The Gestalt theory of problem solving, described by Karl Duncker (1945) and Max Wertheimer (1959), holds that problem solving occurs with a flash of insight. Richard Mayer (1995) noted that insight occurs when a problem solver moves from a state of not knowing how to solve a problem to knowing how to solve a problem. During insight, problem solvers devise a way of representing the problem that enables solution. Gestalt psychologists offered several ways of conceptualizing what happens during insight: insight involves building a schema in which all the parts fit together, insight involves suddenly reorganizing the visual information so it fits together to solve the problem, insight involves restating a problem's givens or problem goal in a new way that makes the problem easier to solve, insight involves removing mental blocks, and insight involves finding a problem analog (i.e., a similar problem that the problem solver already knows how to solve). Gestalt theory informs educational programs aimed at teaching students how to represent problems. Information Processing Theory. The information processing theory of problem solving, as described by Allen Newell and Herbert Simon (1972), is based on a human computer metaphor in which problem solving involves carrying out a series of mental computations on mental representations. The key components in the theory are as follows: the idea that a problem can be represented as a problem space—a representation of the initial state, goal state, and all possible intervening states—and search heuristics—a strategy for moving through the problem space from one state of the problem to the next. The problem begins in the given state; the problem solver applies an operator that generates a new state, and so on until the goal state is reached. For example, a common search heuristic is means-ends analysis, in which the problem solver seeks to apply an operator that will satisfy the problem-solver's current goal; if there is a constraint that blocks the application of the operator, and then a goal is set to remove the constraint, and so on. Information processing theory informs educational programs aimed at teaching strategies for solving problems. 1. The Definition of Problem and Problem Solving A problem can be defined as any situation in which some information is known and other information is needed. The problem might be something that gives rise to doubt or uncertainty, or something that is hard to understand, or a difficult task or question, or inquiry that start from given condition to investigate facts or principles. Awhile, problem solving can be considered as the process of applying existing knowledge to a new or unfamiliar situation in order to gain new knowledge. According to Mayer and Wittrock, problem solving is “cognitive processing directed at achieving a goal when no solution method is obvious to the problem solver” (2006, p. 287). Thus problems solving is a form of inquiry learning. When used as a deliberate teaching strategy, problem solving can help students to release that the knowledge they have already gained can be applied to a new situations, and that this process can lead them to gain new knowledge. 2. The Distinction between Teaching Problem Solving and Problem Solving as a Teaching Strategy It is important to distinguish between teaching problem solving and using problem solving as a teaching strategy. Teaching problem solving is exactly that-teaching students how to solve problems. Meanwhile, problem solving as a teaching strategy is a technique in which problems are used deliberately as a means of helping students to understand or gain insight into the subject they are learning. So, in the first thing the emphasis is on solving problems and the latter the emphasis is on learning about the subject through solving problems. Quite clearly, the two concepts are closely related, and it is probably best to think of problem solving as a teaching strategy as being the broader concept that includes teaching problem solving. When problem solving is used as a teaching strategy, the emphasis should be on students learning about the subject, rather than simply learning to solve problems. The reason why this point is being stressed is that if we, teachers, simply teach students how to solve problems they may learn very little other than the sequence of steps they need to follow in order to solve a particular type of problem. There is considerable research evidence that students who are taught to solve problem with a “means-ends” approach can do so “with very little knowledge acquisition” (Owen&Sweller, !985, p.273). There is some evidence to suggest that problem solving depends very heavily on domain-specific knowledge. It means that the ability to solve problems in a particular area is so dependent on specific knowledge relevant to that area that one would expect minimal, if any, transfer of problem-solving ability from one area to another. (Schuell, 1990) In many classrooms, especially those of developing countries, the problem solving process may not be feasible because of factors beyond teachers’ control. However, this does not mean that learners in such countries should be disadvantaged from learning or acquiring skills that the problem-solving process offers. Learners can still attain such skills if teachers employ the problem-solving teaching approach. In this kind of teaching, teachers’ techniques, especially their questioning styles, can help learners develop critical and logical thinking, as well as the ability to generalize. Helping students develop problem solving skills is a frequently cited goal of science educators. The National Science Teachers Association (NSTA), in its 1980 position statement, advocated that science teachers help students learn and think logically, specifying that "...high school laboratory and field activities should emphasize not only the acquisition of knowledge, but also problem solving and decision making" (1985:48). Problem solving means many things to many people. For some, it includes an attitude or predisposition toward inquiry as well as the actual processes by which individuals attempt to gain knowledge. Usually, when teachers discuss problem solving on the part of pupils, they anticipate pupils will become involved with the thinking operations of analysis, synthesis, and evaluation (considered as higher-level thinking skills). The American College Testing program has redesigned its college admissions test with a new emphasis on assessing higher-order thinking skills (EdLine,1989). 3. When Problem Solving as a Teaching Strategy Teaching and learning strategies are the purposeful actions and thoughts learners engage in for understanding, storing, and remembering new information and skills. Some learning strategies are observable, as in note-taking or writing a plan for problem solution. Many learning strategies, however, are non observable because they are purely mental processes. Examples of non-observable strategies are monitoring comprehension or activating prior knowledge. Since learning strategies can be used with any learning task, including mathematics and language tasks, they have considerable potential for enhancing the academic achievement of linguistic minority students. Three types of learning strategies are commonly discussed in the literature: metacognitive strategies, or the executive strategies that individuals use to plan for, monitor, or evaluate learning; cognitive strategies, the actual manipulation of learning materials by reorganization and grouping, elaboration or relating one new idea to another and relating new ideas to existing knowledge; and social-affective strategies, in which the learner calls on another person for assistance or works cooperatively with others on a common task (Pressley & Harris, 1990). An important reason for having students solve problems is to help them gain insight that will enable them to understand the subject matter better and to look at it from different perspectives and so problem solving is an ideal strategy to use in relation to group work. To achieve the benefits of group work, the teachers need to encourage students to discuss with one another what they understand the problem to be, how they feel about the problem, and the various steps in their attempts to solve the problem. In short, the most appropriate times for the teachers to use problem solving as a teaching strategy are as follows: • When the teachers want their students to gain a deep understanding of the subject matter, rather than just remembering bits of it. • When the teachers want to develop their students` thinking and reasoning skills-that is, their ability to analyze situations, to apply their existing knowledge to new situations etc. • When the teachers want to develop their students` problem solving skill- that is, their ability to assess and respond to new situations. • When the teachers want to challenge their students intellectually. • When the teachers want to encourage their students to take greater responsibility for their own learning. • When the teachers want students to understand the relationship between what they are studying and the real world (the relationship between theory and practice) • When the teachers want students` learning experiences to be varied and interesting. C. Anticipation of problem To use problem solving effectively as a teaching strategy you will need to develop certain teaching skills, just as the students will need to develop the thinking skills described previously. Fullerton (1992) suggests that you will also need to be able to engage in the following activities. 1. Formulating the problem You must help the students to examine the problem from a number of perspectives so that they will understand exactly what the problem is. 2. Analyzing the problem Before students try to solve a problem, you need to get them to break down the problem into its various components and assess the importance of each component. 3. Generating Ideas When you present students with open-ended problems (rather than problems that have a specific answer), one of your major tasks will be to help students generate ideas or data that can be used for solving the problem. To do this you might : • Help students to relate the problem situation to real situation • Help students to develop or explore analogies that will lead them to creative solutions for the problem. 4. Evaluating ideas When solving open-ended problems, students may have difficulty deciding on the relative merits of various ways of approaching the problem and/or the merits of various suggested solutions. You can help the students to select techniques for solving a problem, and to judge the merits of alternative solutions, by giving them specific criteria for making judgments. You could : • Have students list all the available alternative, examining the strengths and weaknesses of each, and then selecting the one that fulfils the problems objectives best. • Have students generate a list of ideas and evaluate each idea against explicit criteria, with all students having equal input into the selection of the final idea. In solving any problems, it helps to have a working procedure. We might want to consider this four-step procedure. Understand : before you can solve a problem you must first understand it. Read and re-read the problem carefully to find all the clues and determine what the question is asking you to find. What is the known ? What are the data ? What is the condition ? Plan : one you understand the question and the clues, it’s time to use your previous experience with similar problems to look for strategies and tools to answer the question. Do you know a related problem ? Try it : after deciding on a plan, you should try it and see what answer you come up with. Can you see clearly that the step is correct. Look back (reflect ) : once you tried it and found an answer. Check result, argument, result differently and a glance. When we use problem solving as the principal teaching strategy in a lesson, we are passing to students some of the responsibility for their own learning. If we have planned carefully, you will have created a situation in which the students can learn about the subject by solving the problem(s) that you have posed. If the students work on problems individually, the teacher should expect them to:  Satisfy the students that they know what the real problem is before they try to solve it  Ask question if they are not clear about any points  Develop a plan for solving the problem before they jump into calculations or experimentation or research  Keep a written record of how they attempted to solve the problem and the result they obtained  Make brief notes of what they learned by solving the problem If the students work in groups or pairs to solve problems, we should expect that they will do the things listed above and it addition:  Explain to one another what they understand about the problem and how it might be solved;  Co-operate with one another to complete the tasks and maximize their learning;  Explain their solutions to one another and show interest is one another’s explanations; and  Persist until they agree that they have solved the problem satisfactory. If the students work on the problem as a whole-class activity, you should expect that they will:  Explain what they understand by the problem and how they attempted to solve it.  Listen to and try to understand, the ideas and explanations of other students;  Pose questions and ask for clarifications;  Comment on the ideas and solution offered by other students; and  Help to draw conclusions from the problem-solving experience. D. Strengths and Weaknesses: 1. Strengths When used effectively, problem solving has a new number of advantages over direct instruction. In summary, these advantages are as follows:  Problem solving provides a challenge for students, and they can derive great satisfactions from discovering new knowledge for themselves.  Problem solving engages students actively in learning.  Problem solving helps students to develop new knowledge for themselves and feel responsible for their own learning.  Problem solving teach students that their solutions should be explainable and just justifiable.  Problem solving can show students that our subject is a way of thinking and doing things that should make sense to students, not just to the teacher or the textbook author.  Problem solving can be fun and rewarding learning experience.  Problem solving can develop students` critical thinking skills and their ability to adapt to new learning situations.  Problem solving can help to keep alive students` natural curiosity.  Problem solving encourages students to talk about the concepts they are trying to understand.  Problem solving develops students` ability to make informed judgements.  Problem solving provides students with an opportunity to apply their knowledge and to see that their knowledge has some real world applications.  Real-life problems can help students to integrate the knowledge they gain fro studying several different subjects.  Problem solving can help students to develop qualities such as resourcefulness, independence, patience and tenacity.  Problem solving can show students the value of exploring alternative approaches, in contrast to finding the answer as quickly as possible.  Appropriately challenging problems can engage students in learning long after the formal lesson is over.  Problem solving helps increase retention and provides a sound foundation from which students can transfer their knowledge to other situations.  Problem solving can create three conditions that assist in subsequent retrieval and appropriate use of new information: activation of prior knowledge, similarity between the contexts in which information is learned and later applied, and opportunity to elaborate on that information.  Problem solving can help students to develop the confidence to try things even when they think they might make a mistake, and to keep trying when they do make mistakes.  Problem solving can give the teachers a better understanding of the abilities and special talents of their students. 2. Weaknesses There are many occasions when we are teaching maybe more effective or efficient if we use techniques other than problem solving because it has the following limitation:  Unless the problems are motivating, students may see them simply as busywork.  Unless students are interested and believe that they can solve the problem, they may be reluctant to try  Appropriate problems take time to develop since each problem needs to be carefully structured to produce specific student learning outcomes.  Unless our students understand why they are attempting to solve a particular problem, they may not learn what we want them to learn. E. Implementation The implementation of problem solving strategy can be seen from using it through studying mathematics. At this studying, students should be able to solve problems encountered in the real world and to reason and talk about their solutions. In this approach to mathematics instruction, language plays a much larger role than has been the case in traditional computation-based programs. For example, students need good comprehension skills (both oral and reading) in order to understand a problem, and they also need good speaking skills in order to discuss the problem and explain their path to solution. Writing skills are also needed in mathematics if students are to write about their problem solutions (Dossey, 1989). The strategic approach generally recommended for mathematics problem solving is based on Polya’s model, which consists of understanding the problem, devising a plan, carrying out the plan, and looking back (Polya, 1957, 1973 in Chamot, A.U., & O'Malley, J.M. 1993). In addition to language skills, mathematics problem solving also requires a strategic approach to understanding and representing the problem, and making and carrying out a plan for its solution. The important of following the problem solving steps of the Polya model in sequence is a highly effective approach to solving word problems (Pressley & associates, 1990). Specific learning strategies appropriate for each step of the model include elaboration of prior knowledge, selective attention or focusing on important information, evaluating the plan, and representing the problem pictorially (Chamot & O’Malley, 1993). Cooperation, or solving problems in small groups, is another strategy that has a positive effect on problem solving and on helping students develop metacognitive awareness of their own mathematical thinking. Benefits of solving problems cooperatively include sharing strategies, communicating mathematically, and developing skills needed for independent learning. In addition to following specific problem solving steps, effective problem solvers maintain a reflective view of their own problem solving processes. They analyze related information, look for possible solutions, and check the accuracy of alternative solutions. Such metacognitive knowledge and executive control over problem solving provides the student with flexible and autonomous control over the learning process. In addition to metacognitive control, an effective problem solver will brainstorm a variety of alternative plans or solution strategies, activate what has already been learned, try the plan out with the current problem, and evaluate its application to the solution. The student’s evaluation of the plan must be performed with respect to the original problem representation rather than to the simple computational procedures used to find the answer (Noddings, Gilbert-MacMillan, &Leitz, 1983). The purpose of the representation step is to help students organize the data, define the problem and identify key issues. In this phase, we might ask students to:  frame the problem in their own words  define key terms and concepts  determine statements that accurately represent the givens of a problem  identify analogous problems  determine what information is needed to solve the problem In the solution phase, one develops and then implements a coherent plan for solving the problem. As we help students with this phase, we might ask them to:  identify the general model or procedure they have in mind for solving the problem  set sub-goals for solving the problem  identify necessary operations and steps  draw conclusions  carry out necessary operations In all cases, the more we get the students to articulate their own understandings of the problem and potential solutions, the more we can help them develop their expertise in approaching problems in our discipline. A few different ways we can introduce a problem to students include:  demonstrate a problem solution by systematically explaining each step and its rationale  ask the students how they would approach solving the problem  ask the students to help we solve the problem by posing questions at key points in the process  have the students work together in small groups (3 to 5 students) to solve the problem, and then have the solution presented to the rest of the class (either by us or by a student in the group) Students in problem-solving classes indicate that they appreciate:  clear step-by-step explanations  questions posed at key points in the solution  overviews and summaries of problem-solving approaches  opportunities to ask questions about problems and solutions  explicit links to similar problems  opportunities to interact with each other and with the instructor while working towards solving problems. To make the students to become better at problem solving, the teacher needs to give them appropriate practice by doing the following activities: a) Deciding what the teacher wants students to learn. b) Selecting or developing appropriate problems. c) Presenting the problems to students in a stimulating way so that they are encouraged to try to solve them. d) Monitoring the students` progress and encouraging them to think about their problem-solving processes. e) Helping students to understand how problem solving is helping them to learn about the subject they are studying. Teachers` Activities Developed during Problem Solving Lesson To use problem solving effectively as a teaching strategy the teacher will need to develop certain teaching skills by engaging in the following activities ( Killen, : a) Formulating the problem by highlighting the parameters of the problem and helping the students view the problem from new perspectives. b) Analyzing the problem by assisting students to identify the major elements in a problem and assisting students to identify how the components of a problem interact. c) Generating ideas by helping students to relate the problem situation to real situations with which they are familiar and helping students to develop or explore analogies that will lead them to creative solutions for the problem. d) Evaluating ideas by having students list all the available alternatives and having students generate a list of ideas and evaluate each idea against explicit criteria. F. Conclusion  A problem can be defined as any situation in which some information is known and other information is needed.  Problem solving can be considered as the process of applying existing knowledge to a new or unfamiliar situation in order to gain new knowledge.  Thus problems solving is a form of inquiry learning  Learners can still attain such skills if teachers employ the problem-solving teaching approach  In this kind of teaching, teachers’ techniques, especially their questioning styles, can help learners develop critical and logical thinking, as well as the ability to generalize.  When teachers discuss problem solving on the part of pupils, they anticipate pupils will become involved with the thinking operations of analysis, synthesis, and evaluation  The American College Testing program has redesigned its college admissions test with a new emphasis on assessing higher-order thinking skills (EdLine, 1989)  The purpose of the representation step is to help students organize the data, define the problem and identify key issues  In all cases, the more we get the students to articulate their own understandings of the problem and potential solutions, the more we can help them develop their expertise in approaching problems in our discipline.  When we use problem solving as the principle teaching strategy in a lesson, we are passing to students some of the responsibility for their own learning.  When used effectively, problem solving has a new number of advantages over direct instruction  Appropriate problems take time to develop since each problem needs to be carefully structured to produce specific student learning outcomes. References Chamot, A.U., & O'Malley, J.M. 1993. The CALLA handbook: How to implement the Cognitive Academic Language Learning Approach. Reading, MA: Addison-Wesley. Duncker, K. (1945). On problem solving. Psychological Monographs, 58(5), Whole No. 270. Jones, B.F., & Idol, L. 1990 Introduction. In B.F. Jones & L. Idol (Eds.), Dimensions of thinking and cognitive instruction (pp. 1-13). Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum. Holyoak,, K. J., & Morrison, R. G. (Eds.). (2005). The Cambridge handbook of thinking and reasoning. New York: Cambridge University Press. Mayer, R. E., & Wittrock, R. C. (2006). Problem solving. In P. A. Alexander & P. H. Winne (Eds.), Handbook of educational psychology(2nd ed., pp. 287–304). Mahwah, NJ: Erlbaum. Newell, A., & Simon, H. A. (1972). Human problem solving. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall. Noddings, N., Gilbert-MacMillan, K., & Leitz, 5. 1983, April. What do individuals gain in small group mathematical problem solving? Paper presented at the annual meetings of educational Research Association, Montreal. Pressley, M. & Associates. 1990. Cognitive strategy instruction that really improves children’s academic performance. Cambridge, MA: Brookline Books. APPENDIX A WORD PROBLEM PROCEDURE The CALLA Mathematics curriculum has been supplemented with a Word Problem Procedure (WPP) which Spanos (Arlington Public Schools,, 1991) developed for use in his high school CALLA math class. This procedure is in the form of a one-page worksheet and contains the following 11 steps: 1. Choose a partner or partners. Write your names above. 2. Choose a problem. Write the problem in the space below. 3. Select one student to read the problem aloud. Re-read the problem if necessary. Together, discuss the vocabulary in the problem and circle any words you don’t understand. Write the words below. 4. Find the meanings of the words by using a bilingual dictionary, asking your partner(s), or asking your teacher. 5. Write what the problem asks you to find below. 6. Write the operation(s) you need to solve the problem below: Add? Subtract? Multiply? Divide? 7. Solve the problem in the space below. 8. Check your answer. 9. Explain your answer to your partner(s). Write your explanation below. 10. Explain your answer to the class. 11. Write a similar problem on the back of this page. Steps 1-4 correspond to Step 1 of Polya’s method (Understanding the Problem), Steps 5-6 correspond to Step 2 of Polya’s method (Devising a Plan), Step 7 to Polyas Step 3 (Carrying out the Plan), and Steps 8-11 to Polyas Step 4 (Looking Back). The steps in the procedure are analyzed in the curriculum guide in terms of the learning strategies that are involved, e.g., Steps 1-6 are planning steps and therefore invite metacognitive strategies, while Steps 7 and 8 require students to manipulate the mathematical content and therefore involve cognitive strategies. The entire Word Problem Procedure calls on students to use social affective strategies by asking for clarification and working cooperatively on the problem solution. Finally, students use academic language related to mathematics as they read, discuss, write individual explanations of how the problem was solved, and explain to their partners and the class how they arrived at the answer. In this way, the WPP embodies the CALLA philosophy of integrating content, academic language, and learning strategies. APPENDIX B INTERVIEW GUIDE FOR THINK-ALOUD AND RESTROSPECTIVE INTERVIEWS STUDENT INTERVIEW GUIDE Part I: Warm-Up - Background Information (2 minutes) 1. Introduce self and ask student’s name. 2. What is your native language? 3. What country are you from? 4. How long have you been in the U.S.? 5. Did you go to school in your country? What grade did you finish? 6. Explain purpose of interview. Part II: Think-Aloud Warm-up (3 minutes) 1. Here’s an easy problem. Can you tell me what you are thinking while you solve it? Student is given a sheet of paper with this problem: 53 -28 2. (If student needs more practice with thinking aloud). Do this problem, too: 15 x3 If student falls silent while working, say TELL ME WHAT YOU’RE THINKING. Part III: Word Problem Think-Aloud (5 minutes) 1. Start with Word Problem 1. If the student is completely unable to handle it, use Word Problem 2. Say, “Okay, why don’t we try this problem instead.” 2. Script: “I’d like you to try to solve this problem.” (Hand Word Problem 1 to student.) “Here’s a pencil and a calculator, if you want to use it. You can write or put anything on this paper to help you solve the problem. Why don’t you read the problem aloud first, and then talk aloud while you solve the problem.” Say TELL ME WHAT YOU’RE THINKING. WHAT STRATEGIES ARE YOU GOING TO USE? If student doesn’t understand, say JUST TELL ME WHAT YOU’RE THINKING. WHAT ARE YOU GOING TO DO? If, in spite of prompting, student does not want to talk while solving the problem, ask after he or she has completed the problem: “How did you get that answer? Can you tell me what you did?” Have the student go back through each step and describe what he or she did. WORD PROBLEM 1 Carlos and Gloria work at McDonald’s at 4238 Wilson Boulevard. Carlos works 8 hours per week and gets $4.50 per hour. Gloria works 6 hours per week and gets $6.15 per hour. Who works more? Who gets more money per week? How much more? WORD PROBLEM 2 (ALTERNATE) In 1989, there were 36 students in the HILT math class. In 1990, there were 27 students. Which year had more students? How many more students were there in that year? Part IV: Learning Strategy Discussion (5 minutes) Say WHAT STRATEGIES DID YOU USE? if student does not understand, ask WHAT DID YOU DO TO HELP YOU SOLVE THE PROBLEM? if student is not able to generate answers, ask the following questions in sequence: 1. “How did you feel about solving the problem?” (If necessary, ‘Were you nervous? Interested?) 2. “Have you solved other problems like this one?” (if yes, “Did you remember how you did another problem to help with this one?”) 3. “Did you understand the problem right away?” (If no, “What did you do about it?”) 4. “Did you make a plan of what to do?” (If yes, “Tell me about your plan.”) 5. “Did you look for important words to solve the problem?” (If yes, “What were they?”) 6. “Were there any words you didn’t understand?” (If yes, “What were they? Could you solve the problem anyway without those words?”) 7. “How did you decide which numbers to use?” 8. “Did you cross out, or not use, information that you didn’t need?” (If yes, “What was it? What didn’t you need?”) 9. “How did you decide which operation to use?” 10. “Did you make a picture in your head or draw a picture or table?” (If yes, “Can you show/tell me about it?”) 11. “Did you check your answer? (If yes, “How did you do that?”) THANK YOU FOR YOUR WORK. YOU DID A REALLY GOOD JOB. APPENDIX C CALLA TEACHER QUESTIONNAIRE Teacher Name ____________________Date____________________ 1. Check which of the following math strands you have covered this year: _______ Whole Numbers _______ Fractions _______ Time & Money _______ Ratio & Percent _______ Geometry _______ Decimals _______ Graphs, Charts, Statistics, & _______ Probability _______ Other (Describe_______________________________ ) 2. Check the average amount of time spent on word problems: _____ once a week _____ 4-5 times a week _____ 2-3 times a week _____ part of every period 3. Do you think it is necessary to teach learning strategies directly (i.e., to name the strategy and tell why it is important)? __ Yes __ No Why or why not? _________________________________________________________ _________________________________________________________ 4. Which learning strategies do you teach directly (D) or indirectly (I)? __ D __ I Elaborating prior knowledge __ D __ I Cooperation __ D __ I Graphic Organizers __ D __ I Classifying/grouping __ D __ I Making inferences/predicting __ D __ I Summarizing __ D __ I Using images/visualizing 5. Do you teach problem-solving strategies? __ Yes __ No 6. If yes, check which strategies you use*: __ Finding needed information __ Finding extra information __ Cooperative learning __ Guessing & checking __ Choosing operations __ Making organized lists/tables __ Drawing pictures/diagrams __ Finding patterns __ Writing simple problems __ Solving simpler problems __ Using logical reasoning __ Working backward __ Writing number sentences 7. Additional comments _____________________________________ ________________________________________________________

Read More......