8.23.2010

BERBANGSA MERDEKA ATAU MENJADI BANGSA YANG PUNAH?

Berfikir bebas
Berfikir benar
Berfikir merdeka

Sejenak kita layangkan pandang fikir kita,pada sebuah keadaan yang sama-sama kita lakoni di Tanah tumpah darah Indonesia ini, banyak cerita, banyak kisah tentang kemerdekaan yang telah direbut oleh para founding father negeri. Sekarang kita sedang melakoni kemerdekaan yang ke 65 Tahun. Pertanyaan yang kemudiaan muncul sampai kapan kita menikmati kemerdekaan ini? Sampai kapan juga Negara ini masih tetap ada?.

Sangat menarik apa yang dikatakan, Arnold P. Toynbee, sejarawan yang dikenal dengan teori : Challege and Response, dalam bukunya the history of mankind kurang lebih mengatakan, “ setiap bangsa pada suatu saat dalam perjalanan sejarahnya akan menghadapi suatu tantangan yang begitu besar bahkan akan menggancam eksistensinya. Terserah pada bangsa itu untuk mengatasi tantangan yang datang itu, bangsa ini akan tenggelam dalam lintasan sejarah bila gagal menjawab tantangan tersebut dan menjadi bangsa yang datangnya tidak mengenapkan, perginya pun tidak mengganjilkan. Atau bila berhasil, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang kehadirannya akan diperhitungkan”.

Yang paling menarik dari study Toynbee terhadap 26 peradaban (civilization, societies, not nations or periods), termasuk masyarakat yang tertindas, selalu saja ada sekelompok kecil pemimpin bangsa itu yang membimbing bangsanya dalam memberikan respon terhadap tantangan yang ada dan mengatasinya. Arnold P. Toynbee menyebutnya the creative minorities (TCM). Seandainya Toynbee tahu sosok Nabi Muhammad maka barangkali Toynbee akan mengatakan Nabi Muhammad sebagai founding father peletak batu pertama yang menjadi tauladan dari the creative minorities.

Dari ungkapan Toynbee diatas. Apakah kita masih bisa bertahan 100 tahun lagi sebagai bangsa, atau tinggal beberapa tahun kita akan menjadi bangsa yang punah, dan bangsa lain menemukan bangsa kita dalam peta saja.pertayaan yang menggelitik diatas dapat kita jawab dengan optimisme karena kita masih memiliki potensi yang luar biasa seperti apa yang dikatakan Mas Saefullah Patah, Indonesia masih memiliki Panca daya untuk mencapai Negara paripurna:

Panca daya yang dimaksud Saefullah Patah adalah:
1. Spritualitas
Spritualitas inilah yang menjadi modal besar Bangsa Indonesia kedepan, ini dibuktikan sejak berabad-abad lamanya, perjuangan merebut kemerdekaan tidak lepas dari pengaruh tokoh agama yang memberikan doktrin spritualitas, kemudian dijadikan sebagai semangat juang para shuda bangsa. Jika spritualitas ini di pupuk dengan baik, kedepan bangsa ini bisa menjadi bangsa yang besar.

2. Sejarah,
Indonesia memiliki sejarah yang amat panjang dengan keberagaman budaya didalamnya, sejarah pernah dijajah, bisa menjadi cambuk untuk bertahan menjadi bangsa yang tidak akan dijajah lagi, baik penjajahan secara psikologis maupun pisik, sejarah bagaimana kearifan nenek moyang bangsa ini, yang harus ditiru bagi generasi bangsa.jika ini mampu kita kelola dengan baik maka kita bisa survive menjadia bangsa.

3. Kemajemukan
Pluralitas atau kemajemukan bangsa bisa menjadi aset yang besar bagi bangsa Indonesia, bersuku-suku, ragam adat, budaya, agama, bahasa, menjadi dagelan sehari-hari bangsa Indonesia. Ini telah dibuktikan sejak merebut kemerdekaan 65 tahun lalu. Bukan dari satu agama, satu suku, tetapi semuanya berbaur dalam satu tekad merebut kemerdekaan saat itu, kalau ini bisa kita kelola dengan baik maka kita bisa menjadi bangsa yang besar.

4. Hati nurani
Budaya ketimuran bangsa memiliki hati nurani yang amat tinggi, semangat kebersamaan, gotong royong, toleransi adalah didorong oleh hati nurani bangsa. Hati nurani menjadi asset, bangsa lain melihat segala sesuatu dari sudut materialism, tetapi kita selalu melibatkan perasaan, kasih sayang, rasa hiba pada orang lain, membantu bukan pamrih, saat memberi tidak ada alpa. Itu ciri bangsa yang memiliki hati nurani dan sampai sekrang masih kita miliki, sehingga wajar disebut the earth of mankind (Buminya para manusia) dalam novel pertama Pramoedya Ananta Toer.
5. Generasi muda.
Negara manapun membutuhkan generasi muda, pemuda adalah mereka yang memiliki semangat ingin maju, berubah dari hari kehari, memiliki kreativitas, the founding father bangsa ini, memanggil 10 pemuda untuk menggoncangkan dunia, artinya semangat pemuda yang tinggi itulah yang dimaksud, pemuda sangat relevan dengan ungkapan Toynbee, the creative minorities, kelompok kecil yang memiliki creativitas, jika pemuda pada bangsa hacur maka percayalah Negara itu tidak akan bertahan lama ada disebabkan generasinya yang rusak.

Oleh karena itu, saya ingin posisikan diri sebagai pemuda, dan mengatakan apa yang harus dikatakan dan dilakukan sebagai seorang pemuda. Mari kita semuanya mulai menjadi aktor bukan penonton sehingga betul-betul kita bisa mengisi kemerdekaan ini. Sehingga kita tidak masuk apa yang stero type(penamaan) Toynbee tentang sebuah Negara yang akan hilang. Sehingga kitalah the creative minorities itu. Wassalam.

Read More......

8.10.2010

PONPES DARUL FURQON NW MENGKURU HOST FAMILY

PONPES DARUL FURQON NW MENGKURU HOST FAMILY PERTUKARAN GURU INTERNATIONAL (AMERICA - INDONESIA)
Pondok Pesantren Darul Furqon NW Mengkuru bekerjasama dengan EWC ( East West Center) dalam program Patnership for school (P4S) leading change Indonesia United States. Bertujuan untuk membagun kerjasama yang kuat antara Indonesia dan U.S A dalam bidang pendidikan. Untuk Nusa Tenggara Barat PONPES Darul Furqon NW Mengkuru ditunjuk sebagai Tuan Rumah (host family) pertukaran Guru U.S A yang akan homestay selama 6 hari di PONPES Darul Furqon NW Mengkuru dari tanggal 28 Juli s.d 2 Agustus 2010. Tujuannya agar terbangun akses informasi dan sharing pengalaman tentang pendidikan di U.S.A dengan guru-guru di Pesantren sehingga saling memahami kebudayaan masing, ini merupakan cross culture understanding (CCU) antara kedua Negara.
Guru yang akan home stay di Pesantren NW Mengkuru adalah guru America yang mendapat beasiswa FullBright yaitu SARA HOUSE DAN SERENITY’S WRIGHT,keduanya adalah guru IPS. Yang mengajar di Senior High School di America tepatnya di Aregon untuk Sara, dan Di Kentucky untuk Serenity’s.
Selama di Lombok mereka akan berkunjung ke beberapa pesantren dan public school atau sekolah negeri yang ada di Lombok Timur antara lain SMKN 1 Sakra dan SMKN 1 selong, mereka akan berdiskusi dengan para siswa dan guru di masing-masing sekolah tentang kurikulum, strategi mengajar, dan budaya. Terutama di pesantren yang terkenal sebagai nafas Islam untuk Indonesia.
Sebab selama ini yang banyak stereo type yang mereka dengar baik di media massa, elektronik dan sebagainya bahwa Islam di Indonesia adalah Teroris (ektrim) hal itulah yang mengugah curiosity east west center (EWC) untuk Asipasific untuk mengetahui lebih jauh terkait dengan stereo type di kantong-kantong Islam yaitu pesantren.

Tetapi ternyata, mereka menemukan sesuatu yang kontradiksi dari pemberitaan media massa selama ini di negaranya. Mereka menemukan Islam di Indonesia sangat ramah, friendly dan menyambut mereka dengan baik di pesantren-pesantren sungguh ini diluar bayangan mereka, ungkap Namji steinneman Drektur EWC Asiapacific untuk program pertukaran guru international.
Guru America akan tinggal di Indonesia selama satu bulan yang terpencar di beberapa wilayah di Indonesia, dari Aceh, Ambon, Bali, dan Lombok dimasing-masing daerah mereka akan tinggal selama 6 hari.
Sedangkan Sara dan Serenitys Lombok adalah kunjungan terakhir mereka dan host familynya adalah pondok pesantren Darul furqon NW Mengkuru, dimana mereka akan tinggal dirumah guru yang mengajar di Pesantren tentu yang guru yang bisa bahasa Inggris.
Selama tinggal di pesantren Sara dan Serenitys telah berdiskusi banyak dengan para guru dan siswa di Pesantren mereka ikut mengajar. Mereka mengikuti kelas bahasa Arab, Nahu saraf, dan Sosialogi, melihat para Guru mengajar.


Read More......

NTB BEGENDANG DI BUKIT TINGGI


(Tiga Duta Pariwisata NTB Menunjukkan Aksinya) .

Pelaksanaan Gerakan Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona 2010 dan dalam rangka mendukung suksesnya Visit Lombok–Sumbawa 2010, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat telah melaksanakan rangkain kegiatan yang salah satunya adalah temu karya Pokdarwis. Kegiatan ini telah menghasilkan peserta terbaik untuk mewakili NTB di kancah Nasional peserta yang menjadi duta tersebut adalah : Lalu Nurul Yaqin, Pokdarwis Bajang Tulensasak Lombok Timur, Lalu Jasmawadirta, Pokdarwis Agung Andika Lombok Tengah, dan Rizal, pokdarwis Kembang Desa (Lombok Timur). Ketiga duta NTB tersebut akan mengikuti peresmian gerakan sadar wisata dan aksi sapta pesona pada pentas seni tradisional daerah dalam kampanye sadar wisata Nasional di Bukit Tinggi Sumatera Barat tanggal 16 Juli 2010.

NTB begendang di bukit tinggi, sungguh penampilan yang memukau penonton baik penduduk setempat maupun peserta dari daerah lainnya. dari banyak peserta, hanya NTB yang menampilkan seni tradisional daerahnya disamping mengikuti seambruk kegiatan lainnya, banyak orang mengira Kontingen NTB berasal dari Bali, karena memang sangat mirip tetapi penampilannya tidak sama karena membawa ciri khas Lombok bukan yang lainnya.

Ikut juga pada saat itu, Drs. Nunung Trianingsih, MM. Kabid Kebudayaan Dinas BUDPAR NTB, Dra.Hartati Kasi Kebudayaan. Dan Lalu Ari Bardiansah.



Read More......

5.14.2010

NW Pancor-Anjani Islah


PRAYA—Dua kubu di organisasi Nahdlatul Wathan (NW), Pancor dan Anjani, kini bersatu lagi. Tidak ada sekat lagi antardua belah pihak yang sempat berpisah itu. Momen bersatunya NW Pancor dan Anjani, berlangsung di Lapangan Umum Muhajirin, Praya, kemarin sore.
Bersatunya dua keluarga besar keturunan Almagfurullah Maulana Syekh TGKH M Zainuddin Abdul Madjid dikemas dalam acara silaturahmi dan Syafa’atul Qubro yang digagas pemuda NW bersatu.
Hadir dalam kesempatan ini, putra Ummi Hj Siti Rauhun, HM Syamsul Luthfi. Sedangkan Ummi Hj Siti Raehanun ZAM diwakili putranya TGHL Gde Sakti. Sementara dua ummi berhalangan hadir karena satu dan lain hal. Demikian halnya dengan TGH M Zainul Majdi maupun TGHL Gde At Tsani.
Pantauan Lombok Post, silaturahmi akbar ini dihadiri puluhan tuan guru NW Anjani dan NW Pancor, pengurus besar dua belah pihak, jamaah organisasi NW Anjani dan Pancor, serta pihak terkait lainnya.
Beberapa tokoh NW Pancor yang hadir di antaranya, Dr Mawardi, TGH Mahmud, TGH Faisal, TGH Mursidin Zuhdi, TGH Tahir Azhari, TGH Ahmad Said, dan tuan guru lainnya. Sedangkan tokoh NW Anjani di antaranya, TGH Muhamad Yasin, TGH Habib Tantawi, TGH Mustamin Hafifi, TGH Zaenal Arifin, TGH Hilmi Najamudin, TGH M Burhanudin, TGH Mashur Rajab, dan sejumlah tuan guru lainnya.
Bersatunya NW Anjani dan Pancor ditandai dengan sambutan bersama yang disampaikan oleh HM Syamsul Luthfi dan TGHL Gde Sakti di panggung utama.
HM Syamsul Luthfi, membuka sambutannya dengan mengucap rasa syukur atas apa yang terjadi di Lapangan Umum Muhajirin Praya itu. ‘’Cucu-cucu Almagfurullah Maulana Syekh berkumpul di sini untuk merajut kebersamaan,’’ ujarnya.
Praya merupakan salah satu tempat bersejarah bagi organisasi NW. Tahun 2001, perpecahan di organisasi NW terjadi di Praya. Kini, organisasi NW kembali bersatu di Praya pula.
Kepada keluarga besar Ummi Hj Siti Raehanun dan jamaah organisasi NW, Syamsul Luthfi menyampaikan salam ibunda tercintanya Ummi Hj Siti Rauhun. Persatuan dan kebersamaan di dalam organisasi NW, merupakan salah satu cara membalas jasa dan meneruskan cita-cita perjuangan pendiri NW, Almagfurullah Maulana Syekh.
‘’Yang lalu biarkan berlalu. Rangkai kebersamaan untuk kesuksesan pada masa yang akan datang,’’ ajak pria yang juga Wakil Bupati Lombok Timur itu.
Dikatakan, perjuangan NW ke depan cukup berat. Karena itu, organisasi NW bersama seluruh pengurus dan jamaahnya butuh kebersamaan. Konsep yang dijalankan adalah berat sama dipikul ringan sama dijinjing.
Momen di Lapangan Umum Muhajirin itu sekaligus menepis sejumlah opini yang mengatakan tidak mungkin dua NW bersatu lagi. ‘’Tolong sosialisasikan kepada jamaah yang tidak hadir. Sudah tidak ada perpecahan lagi di tubuh NW,’’ pintanya.
Pada kesempatan itu, Luthfi sempat menyinggung pencalonan salah satu cucu Almagfurullah Maulana Syekh sebagai Bupati Loteng. Ia mengajak seluruh jamaah NW untuk mendukung demi kemajuan Loteng di masa yang akan datang. ‘’Mari perkuat barisan untuk meraih kemenangan. Mengerti maksud saya,’’ serunya.
Sementara itu, TGHL Gde Sakti tidak terlalu banyak memberikan sambutan. Pria yang tercatat sebagai salah satu Calon Bupati Loteng tersebut mengatakan, kebersamaan sangat indah. Kebersamaan merupakan rahmat dari Allah SWT.
Sama seperti Luthfi, Gde Sakti juga menyampaikan salam ibunda tercintanya kepada keluarga besar Ummi Hj Siti Rauhun dan jamaah NW lainnya. ‘’Tidak ada yang pantas diucapkan selain bersatu dan rapatkan barisan,’’ katanya.
Karena sudah tidak ada kubu-kubuan lagi di NW, Gde Sakti meminta semua jamaah dan pengurus NW untuk bersatu. Organisasi yang didirikan Almagfurullah Maulana Syekh tersebut akan semakin kokoh jika tidak ada lagi perbedaan di dalamnya. ‘’Kalau kami besopok (bersatu, Red) maka jamaah juga harus besopok,’’ ajaknya.
Pantauan Lombok Post, sejumlah jamaah NW tampak mengusap air mata ketika mendengar sambutan bersama HM Samsul Luthfi dan TGHL Gde Sakti.
Sementara itu, pengurus PB NW DR Mawardi Amri mengatakan, ini merupakan momen bersejarah. Semalam sebelum islah di Lapangan Umum Muhajirin, Mawardi Amri ditelepon oleh Ummi Hj Rauhun. ‘’Beliau (Ummi Hj Siti Rauhun, Red) berkata, sampaikan salam saya kepada Ummi Hj Siti Raehanun,’’ paparnya.
Mendapat telepon seperti itu, Mawardi terkejut. Ia lantas menghubungi sejumlah tokoh NW lainnya untuk menginformasikan kabar baik itu. Tidak lama kemudian, Amri bertolak ke Anjani untuk menyampaikan salam Ummi Rauhun ke Ummi Raehanun.
Setibanya di Anjani, Amri ditanya apakah salam yang ia bawa benar adanya. Untuk membuktikan kebenaran salam tersebut, Amri diminta memfasilitasi perbincangan antara Ummi Hj Siti Raehanun dan Ummi Hj Rauhun via ponsel. Perbincangan dua putri Almagfurullah Maulana Syekh akhirnya terjadi.
‘’Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita akan melihat beliau tampil bersamaan di hadapan publik,’’ terangnya.
Sementara itu, Ketua Pemuda NW Bersatu selaku penggagas islah di tubuh NW, Himni Amin, mengatakan, acara Silaturahmi dan Syafa’atul Qubro sudah dikonsep sejak tiga bulan lalu. ‘’Gagasan besar pemuda NW akhirnya terwujud. Kami sangat bersyukur atas hal itu,’’ katanya.
Keluarga besar NW memiliki cita-cita tulus untuk eksistensi organisasi ini ke depan. Jamaah NW tidak akan pernah membeda-bedakan anak, cucu dan keturunan Almagfurullah Maulana Syekh. Organisasi NW hanya satu, yakni yang didirikan oleh Maulana Syekh.
Himni mengatakan, terselenggaranya acara tersebut dipicu oleh rasa kerinduan yang teramat dalam akibat “perpisahan” yang sudah terjadi cukup lama. “Acara ini tidak ada maksud apa-apa, kecuali untuk menyatukan kembali warga NW,” tandasnya.
Lebih jauh dikatakan, keharusan bagi warga NW adalah mempersatukan kedua orang tua (Hj Umi Rauhun dan Hj Umi Raehanun) yang sudah lama “berjauhan”. Warga NW tidak boleh tebang pilih dengan membuang salah satunya. “Wajib hukumnya kita mencintai kedua Ummi kita,” tegasnya. (aji/cr-rzq)

Read More......

5.13.2010

AKhirnya Basyir Pulang..!!

(Oleh Roma Hidayat)
Seorang Aktivis LSM, yang sudah bergeliat banyak untuk bangsanya, bangsa sasak, beliau lebih memelih jadi pekerja sosial ketimbang duduk di birokrasi, gerakan-gerakannya selama ini tealh banyak memberikan andil untuk Lombok Timur, Roma Hidayat pekerja tanpa mencari tanda jasa.
" yaqin"

Basyir (30 tahun) ini bukan yang dikenal orang sebagai Ustadz dari Ngruki . Dia adalah teman sepermainan saya waktu usia 10 tahun dulu. Dia lebih tua 1 tahun dari saya. Setelah 20 tahun pergi, akhirnya, awal Nopember 2006 yang lalu Basyir Pulang Ke Desaku. Sebuah Desa tertinggal, Desa Lepak, Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur, NTB. Saya Pernah berkelahi dengannya dipinggir kolam dekat Pasar, yang kini berubah menjadi Rumah karena sesuatu yang saya lupa sebabnya, dulu sebelum ia Pergi ke Malaysia . Ketika itu, saya masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar.. Di Perkebunan Pasir Logok-Malaysia, dia ditolak oleh taoke, karena masih terlalu kecil untuk bekerja(saat itu usia Basyir 13 th). Untuk Survive, Basyir menjadi tukang cuci bagi Buruh Perkebunan lainnya dengan upah berupa, gratis makan dan minum. Basyir kecil juga sempat mengecap kehidupan Balak kepulauan Riau setelah sebelumnya ditangkap, dipenjara lalu dibuang ke tempat penebangan liar itu oleh Polisi Diraja Malaysia .
Meski Banyak yang seperti Basyir di Kampungku, pergi puluhan tahun ke Malaysia , tak tentu rimba, keberadaannyapun sudah tak banyak dipersoalkan orang, kecuali oleh kerabatnya. Kepulangan Basyir menjadi buah bibir orang Kampung. Semua sudut kampong, bicara tentangnya. Terutama mereka yang kenal dan tahu Basyir, tahu kisah masa kecilnya. Bahkan hari ke-2 kepulangannya, Sehabis Sholat Jum’at, ia secara khusus diminta untuk berbicara di depan jam’ah di Mesjid Al Manar, Mesjid Kampung. Memulai sambutannya setelah puluhan tahun ia menghilang, “saye mohon maaf, tak boleh cakap Indon, ataupun Bahase Sasak (Bahasa Ibunya, Bahasa Lokal)…Untuk adik-adik, Perkenalkan Nama Saye Basyir, orang kampong sini”…Ungkap Basyir. Sesekali ia mengutip dan berbicara dalam bahasa Inggris dengan fasih. Dan sambil Basyir melanjutkan Sambutannya, Orang-orang yang tak mengenalnya (terutama mereka yang berusia dibahwah 30 tahun), tak tahan untuk bertanya pada sesiapa saja yang dianggap kenal dengan Basyir, siapa dia sebenarnya.
Meski peristiwa perkelahian tempo dulu di pinggir kolam itu adalah interaksi terkahir saya dengan Basyir. Tak sedikitpun dendam yang tersisa ketika saya berjumpa kembali setelah dewasa kini. 20 Tahun kami berpisah. Gaya Bicara, wawasannya, pengalaman-pengalam annya, pandangannya terhadap Politik Nasional dan Internasional membuatku kagum padanya. Karena Ia tak tamat SD, hanya sampai kelas 4 saja, dan masa kecilnya adalah kumpulan duka mencari kasih sayang orang tua. Sebuah masa kecil yang akhirnya mendorong ia untuk mengembara sampai ke negeri Seberang (dan baru setelah 20 tahun, ketika bertemu dengannku, Basyir tahu yang dilakukannya itu adalah Migrasi Undoccumented dariku). Dan menurutku, semua orang harus belajar pada Basyir, bagaimana tumbuh menjadi manusia yang bijak, meski datang dari masa kecil yang lebih merupakan potret penyiksaan terhadap anak, penuh dengan pukulan-pukulan. “Dulu ketika masih kecil, hampir semua orang yang saya sebut sebagai Bapak, Paman, bibik, kakek dan kerabat lainnya pernah memukul saya” tutur Basyir. Saya tak tahu sebabnya, mungkin saya nakal atau mereka mau mendidik saya, lanjutnya.
Saya masih faham Bahasa sasak, tapi tak boleh ucapkannya, sergah Basyir pada sebuah siang, ketika saya mengajaknya ke rumah. Kekagumanku makin bertambah ketika ia mengeluarkan sebuah ID card (Kartu Tanda Penduduk, KTP) Malaysia . Rupanya dia telah menjadi warga Malaysia (sayapun, entah karena apa, tidak memberitahunya, aturan hokum di Indonesia yang mengatur soal kewarganegaraan) . Saya terhipnotis, sesekali menyeka air mata, mendengar tuturnya. Ceritapun mengalir dalam bahasa Melayu, Bagaimana Pengembaraan Basyir kecil yang terobsesi untuk mencari sosok Ibu sampai ke Malaysia . Satu kalimat yang sangat menyentuh perasaanku sebagai Manusia adalah cerita menjelang hari-hari ia memutuskan untuk ikut rombongan perahu kayu mengembara ke Malaysia . ketika saya ingin lari dan sembunyi, mencari keamananan dan kenyamanan, dari cubitan, pukulan rotan, jeweran di telinga, jambakan di rambut, makian serta himpunan sumpah serapah dari Bapak dan keluarga Bapakku, saya lari dari rumah mencari kasih sayang ibu, tapi setelah bertemu Ibu, saya berfikir, bahwa apa ini ibu saya atau saya mungkin bukan anak dari Ibu ini, karena hal yang sama saya dapatkan disana. Tapi mungkin itu psikologi orang yang bercerai, jawab Basyir Sendiri mencoba menerka apa yang sesungguhnya terjadi dulu padanya.
Sayapun larut dalam kenangan tentang Basyir kecil. Semua orang di Kampungku dulu, tahun 80-an, menjadikan Basyir sebagai refresensi untuk “mendidik” anaknya. Apa kamu mau seperti Basyir ???. Pernah, ketika kami asyik bermain perang-perangan di kebun pinggiran Desa, Bapaknya datang membawa rotan dan menyeret dia didepan kami, sepanjang jalan Basyir dipukuli, tapi Basyir tak menangis (setelah saya bertemu kembali 20 tahun kemudian, baru saya tahu kenapa ia tak menangis, Tangisan saya tak ada gunanya, bahkan akan memperkeras pukulan rotan itu dibadan saya, untuk itu saya hanya memusatkan fikiran pada Bidadari di Sorga sebagai ibu saya tuturnya). Pernah juga, Basyir jadi tontonan kami, anak-anak kampong, dari pagi sampai waktu Ashar, Basyir diikat berdiri, kaki dan tangannya diikat, dan lehernya diikatkan ke tiang yang melintang menyangga atap rumah (Lampen, sasak) dengan tali plastic berdiameter 10 mm warna biru yang biasa dipakai untuk mengikat Sapi waktu digembala, dan kenangan lain tentang Basyir yang dicambuk.
Terlalu banyak alasan untuk memukul Basyir kecil oleh bapaknya, tidak mencabit rumput, tidak mencari kayu baker, terlambat mengandangkan kambing, terlambat pergi mengaji, nakal, rakus. Tapi saya tak dendam ataupun sakit hati, saya hanya berharap tidak ada anak, apalagi anak saya mengalami hal yang demikian, tekadnya. PAda tanggal 25 Nopember kemarin, Basyir “pulang” lagi ke Negeri Jiran. saya tak tahu apa yang mau saya kerjakan di Sini, saya tak ada lahan, tak ada keterampilan, Ringgit yang saya bawapun tak banyak, setakat harga tiket round trip, katanya. Sempat ia berkonsultasi dengan saya masalah hokum warisan. Tanah yang mestinya menjadi warisan Ibunya dikuasai seluruhnya oleh Pamannya (Adik Pria dari Ibunya yang bernama Nurman). Kakeknya telah meninggal, ibunya adalah anak sulung dari 4 bersaudara (3 perempuan dan 1 pria). NAmun semua warisan dikuasai oleh sang Paman, karena dalam adat Sasak, Perempuan Bergantung pada pria. Jika Saudara Prianya menghendaki, maka ia akan diberi bagian warisan, dan sebaliknya. Saya beritahu Basyir, bahwa Indonesia punya hokum soal warisan tersebut dan ia dapat memperoleh hak berupa tanah dari bagian Ibunya. Awalnya ia bersemangat, tapi setelah saya katakan bahwa proses hokum Indonesia soal warisan tadi bisa memakan waktu sepuluh tahun dan dengan biaya tinggi jika kita masuk ke Pengadilan. Ia akhirnya memutuskan untuk mengikhlaskannya, mungkin hidup saya memang di Malaysia ungkapnya. Tapi kali ini tak seperti kepergiannya pada tahun 1987 yang lampau, kini ia pergi sendiri memakai Pesawat Terbang Via Bandara Selaparang dalam sosok Pria Dewasa yang memegang dua kewarganegaraan, jelas alamat yang dituju, yaitu orang tua angkatnya di Malaysia sana.
Sebelum ia pergi, Basyir meninggalkan pesan pada saya, 1) jika engkau hendak menulis kisah Basyir, maka tuliskan itu dalam bentuk gaya bertutur Aku, 2) Suatu masa nanti saya akan balik Kampung lagi. Nah, tulisan kisah Basyir sedang saya garap, dan yang kini sedang anda baca adalah prolog dari kisah itu.
Seperti yang dituturkan Basyir…

Read More......

4.27.2010

Kelulusan UN SMA di NTB Capai 80 Persen


Sun, 04/25/2010 - 19:18 — Ozie
Berita
pendidikanMataram (Global FM Lombok) –

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) NTB, Drs. H. L. Syafi’i, MM, mengutarakan, tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA/MA di NTB mencapai 80, 54 persen. Jika dibandingkan tahun 2008 lalu, tingkat kelulusan UN SMA di NTB mencapai 84, 84 persen. Sementara, tingkat kelulusan UN SMK mencapai 48, 30 persen. Bagi peserta UN tingkat SMA/MA dan SMK yang tidak lulus pada UN utama, akan diberikan kesempatan mengikuti UN ulang.
” Tidak semua mata pelajaran (Mapel) yang akan diujikan pada UN ulang, karena yang diujikan hanya mapel yang tidak lulus saja. ” jelas Drs. H. L. Syafi’i, MM, kepada wartawan, saat menggelar press confrense di ruang kerjanya, Minggu (25/4).

Syafi’i menyebutkan, dari 46.480 siswa yang mengikuti UN utama, sebanyak 37.594 orang dinyatakan lulus dan sisanya 9.086 orang tidak lulus. Jika dibandingkan tahun 2008 lalu, dari total peserta 45.233 siswa, sebanyak 38.376 siswa dinyatakan lulus dan 6.857 siswa tidak lulus. Sementara, UN utama bagi SMK dari total peserta 11.266 siswa, sebanyak 5.422 siswa dinyatakan lulus dan 5.844 siswa tidak lulus. Melihat angka itu lanjut Syafi’i, tingkat kelulusan NTB termasuk diatas standar nasional.

Syafi’i menegaskan, data detail kelulusan siswa baik tingkat kabupaten/kota dan mata pelajaran UN yang tidak lulus bagi siswa akan diumumkan pada hari senin (26/4). Artinya, data kelulusan yang disajikan saat ini, masih bersifat umum. Tugas Dikpora NTB selanjutnya, yakni akan melakukan UN ulang bagi siswa yang belum dinyatakan lulus pada UN utama.

” Bagi siswa yang belum lulus pada UN utama ini, tidak perlu khwatir dan sedih, karena seluruh siswa dipastikan akan lulus hingga 100 persen, jika pada UN ulang berhasil. Terlebih, siswa SMA/MA yang tidak lulus UN utama hanya 20 persen dan SMK 52 persen. ” pinta Syafi’i.

Dalam kesempatan itu, Syafi’i meminta agar para siswa dapat mengedepankan kejujuran dalam melaksanakan UN ulang nanti. Sebab, tidak ada yang perlu ditakutkan pada UN ulang yang hanya mengujikan mapel yang tidak lulus saja. Pihak percetakan UN juga diminta agar kualitas soal UN dapat ditingkatkan dari sebelumnya. Jangan sampai ada lagi soal yang tertukar, buram dan kosong pada UN ulang nanti. (ozi)

Read More......

4.13.2010

Pentas Teater Keliling 3 kota Lotim, Loteng dan Kota Mataram,


Sekolah Menengah Kejuruan,(SMK Negeri 1 Selong) terus mengembangka bakat dan minat peserta didik dengan berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler salah satunya Seni Teater.
Kegiatan Seni teater di SMKN 1 Selong, terus mengalami kemajuan, dibuktikan dengan pentas keliling 3 kota Lotim, Loteng, Kota Mataram yang dimulai dari pementasan perdana di Aula IAIN Mataram pada malam minggu tanggal 10 April 2010. Lakon yang dipentaskan adalah lakon CALIGULA karya, Albert Camus.
Menurut Pembina Seni Teater SMKN 1 Selong. L.A. Yaqin sekaligus sutradara tim produksi pentas tahun ini, bahwa lakon CALIGULA, adalah drama filosofis yang ditulis Camus karena keprihatinannya pada situasi Perancis pada saat itu. Caligula adalah seorang pangeran yang menjadi sadar setelah kematian Drusila, adik sekaligus kekasihnya, bahwa dunia ini tidak memuaskan (!)
Akhirnya ia sadar bahwa kebebasannya selama ini bukanlah kebebasan yang benar. Dia menentang persahabatan dan cinta, solidaritas, kebaikan dan kejahatan. Dia selalu memaksa orang lain untuk bersikap logis. Ia sangat destruktif! Orang tidak dapat menghancurkan sesuatu tanpa menghancurkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, Caligula mengosongkan dunia sekelilingnya dan berpegang teguh pada logikanya sendiri.
Caligula adalah kisah seorang petinggi negara yang dibunuh oleh kekasih simapanannya, Casonia demi mempertahankan kodrat seorang wanita, walaupun Casonia mencintainya begitu dalam. Inilah kisah tentang kesalahan paling manusiawi sekaligus paling tragis. Caligula beranggapan bahwa orang tidak akan bebas tanpa mengorbankan dirinya sendiri . sedangkan Casonia harus membunuh untuk perjuangan dirinya dan kaum hawa yang lain..(!)
Dengan para Pemain : Jihad Bomb2. Ira, Fian, Lili, Nana. Ely Crew Panggung : Bagus, Zandi, Instrument Musik : Hamzanyani,
Menurut L.A Yaqin pementasan ini dihajatkan untuk mengembleng mental dan membuktikan mereka memiliki bakat yang terpendam yang harus ditunjukkan disamping itu teater mengajarkan suatu tim yang solid dan tingkat disiplin yang sangat tinggi, sebab jika salah satu dari aktor yang melakukan kekeliruan akan berakibat patal pada totalitas pertunjukan.
Pementasan dalam lakon Caligula ini, berbeda dengan pementasan biasanya karena pementasan kali ini mengambil style pementasan ala Turki, menggunakan banyak teaterikal dan gesture-gesture.
Kepala sekolah SMKN 1 selong sangat mendukung segala bentuk kegiatan siswa-siswi terutama pada kegiatan pentas tahun ini dan disekolah-sekolah juga sangat penting ada kegiatan seni teater untuk mengasah kearoganan menjadi kelembutan, kelembutan menjadi kasih sayang,dan saling pengertian, “ Pablo Picasso mampu mengilhami dunia dengan lukisannya” kenapa tidak kemudian Seni teater mampu menjadi ruang ekpresi untuk mengembangkan bakat dan minat mereka di sekolah. ungkap L.A. yaqin.




Read More......