7.10.2013

Part 2 Sholat Teraweh di Kota Singa (a spiritual journey) the series; Puasa di Pulau Dewata,

Aku tidak mendengar suara adzan berkumandang seperti dikampungku lombok yang suara adzannya bersahutan, disini seperti berada dalam sebuah hutan belantara yang terdengar hanya bising burung berkicau, yang diganti oleh deru mobil. Anda harus menjadi seorang petapa yang memiliki daya nyali rasa agar anda waspada pada terkaman singa waktu, jika tidak semuanya akan kelewatan, Zuhur, Asar, apalagi magrib tentu akan lewat, sebab tidak signal yang akan mengisyaratkan hal tersebut.
Selesai berbuka puasa dengan makanan seadanya, ada sate kambing, opor telur ayam, dan campur gerupuk, ditemani es buah wah sempurna sekali, selesai makan langsung bergegas berangkat ke masjid sebab kalau terlambat ditinggalkan oleh pilot sholat (Imam Sholat). Ini malam pertama saya teraweh dengan imam sholat yang luar biasa lembutnya,(lama) tidak seperti dikampung saya dua puluh menit sudah selesai sholat teraweh, dengan system jet tempur “istilah kami dulu” tetapi jangan terlalu cepat dan lama juga ya sedang-sedang saja,,..(aku menggerutu, malam ini lama sekali terawehnya) bayang pandangku jauh kebelakang ketika masih kecil kami pindah-pindah setiap malam ke musholla yang berbeda-beda untuk sholat teraweh, tentu tempat pencarian terakhir adalah imam sholat yang paling cepat, melebihi jet tanpa awak amerika itu (ceritanya). Lucu memang tetapi itulah yang terjadi.
Kali ini, aku berada di kota singaraja, sebagai icon Bali kota pendidikan, yang memiliki jargon Singaraja Smile (bersama bupati Baru PAS). Teraweh di masjid Jami’ adalah adalah sebuah pilihan yang harus dan pengalaman pertama. Semua masyarakat muslim Singaraja membanjiri masjid, tetapi yang mengejutkan pada rakaat pertama masih penuh sampai saff paling belakang, pada rakaat ke 4 tinggal 50 % jamaah semuanya kabur,,ya aku positif thinking saja barangkali berbeda mazhab, yah biarkan saja atau semuanya kebelet pingin buang air besar. Positif thinking saja, masak sedang ibadah masih ada perasaan tidak baik yang menggoroti hati kita. Tetapi aku bersyukur bisa teraweh di negeri sendiri, dulu waktu di Bangkok dan Singapore kami tidak punya kesempatan teraweh di Masjid, walau kami pergi ke little India di komplek Mustafa supermarket yang buka 24 jam di Singapore yang memiliki masjid besar disampingnya tetapi tetap saja tidak bisa. Tetapi seperti kata penggelamang alias sang musafir, “bukan tempat yang menuntun kita menuju ketepian, tetapi rasa yang menaungi kita sebagai kompas sampai ke tujuan” ya,,memang tempat penting tetapi tidak harus,,yang penting kita taddabur raga dan sukma kita. Allamdullilah Ya Allah dimanapun aku berada Kau berikan kenikmatan Ibadah..continued...

1 komentar:

ahyarros mengatakan...

Mantap. Mengalir betul ceritanya. ni mesti harus ada jilid dua..he.he